Menjaga Keutuhan Firman Allah: Kisah di Balik Standardisasi Al-Qur’an Indonesia

Sebuah pertanyaan sederhana kerap luput dari benak jutaan umat Islam yang setiap hari membuka mushaf Al-Qur’an: siapa yang memastikan tidak ada satu harokat pun yang keliru dalam cetakan itu?

Ahmad Falahudin, memiliki jawabannya. Alumni Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2012 ini kini bekerja sebagai pentashih di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), Kementerian Agama Republik Indonesia, sebuah lembaga yang selama puluhan tahun bekerja dalam sunyi menjaga kesahihan teks suci yang dibaca 1,4 miliar Muslim di seluruh dunia.

Falah, sapaan hangatnya, hadir sebagai narasumber dalam program Alumni Mengajar Seri #6, yang diselenggarakan secara daring oleh Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya UNS, Jumat, 8/5/2026. Selama dua jam, ia membedah apa yang disebut Mushaf Standar Indonesia (MSI), sebuah instrumen kunci yang tidak banyak diketahui khalayak umum.

Sembilan Tahun Merumuskan Standar

Kisah MSI bermula jauh sebelum Falahudin lahir. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an didirikan pada 1957 di bawah Kementerian Agama, dengan tugas tunggal: mengoreksi setiap mushaf sebelum diterbitkan dan diedarkan di Indonesia.

Namun, kesadaran akan perlunya standar baku baru benar-benar mengkristal pada 1974. Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur’an pun digelar, dan sidang panjang itu berjalan selama sembilan tahun penuh. Baru pada 1983 sebuah rumusan disepakati. “Prosesnya panjang karena para ulama harus mempertimbangkan mushaf-mushaf yang sudah terlanjur beredar dan dipakai masyarakat,” jelas Falahudin.

Penyempurnaan kembali dilakukan pada 2018, ketika para ahli meninjau ulang kitab-kitab rujukan dalam rasm Utsmani, cara penulisan Al-Qur’an yang mengikuti kaidah mushaf yang dikompilasi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Pada 2022, empat jenis Mushaf Standar Indonesia akhirnya diresmikan lewat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 889 Tahun 2022.

Empat Wajah Mushaf untuk Semua

Salah satu hal yang paling menarik dalam paparan Falahudin adalah kenyataan bahwa MSI bukan satu mushaf tunggal, melainkan empat jenis yang masing-masing menyasar kebutuhan berbeda.

Mushaf Standar Utsmani adalah versi yang paling umum dikenal, ditulis mengikuti rasm Utsmani berdasarkan rumusan Imam As-Suyuthi. Di kalangan santri tua, ia dikenal sebagai mushaf Bombay yang “tidak pojok” karena ujung setiap halaman belum tentu berakhir tepat di ujung sebuah ayat.

Berbeda dengan itu, Mushaf Standar Bahriyah justru memiliki ciri khas: setiap halaman selalu berakhir di akhir ayat, sehingga disukai para penghafal Al-Qur’an. Nama “Bahriyah” sendiri menyimpan sejarah yang tak terduga, berasal dari kata bahri (angkatan laut), karena penerbit pertama yang membawa model mushaf ini masuk ke Indonesia adalah penerbit milik Angkatan Laut Turki.

Dua jenis mushaf berikutnya mencerminkan komitmen negara terhadap inklusivitas. Mushaf Standar Braille diperuntukkan bagi tunanetra, dibaca dari kiri ke kanan menggunakan jari telunjuk, dengan huruf dan harokat yang ditulis sejajar, bukan bertingkat seperti mushaf biasa. Sementara itu, Mushaf Standar Isyarat menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas sensorik rungu-wicara, yang membaca Al-Qur’an lewat isyarat tangan.

“Pernah viral, mushaf dari Maroko dianggap Qur’an palsu karena huruf fa-nya bertitik satu di bawah. Padahal itu mushaf sahih, hanya berbeda tradisi penulisan dhabt-nya,” ujar Falah.

Sebuah STT di Balik Setiap Mushaf

Setiap mushaf yang sah beredar di Indonesia wajib memiliki Surat Tanda Tashih (STT), semacam sertifikat kehalalan bagi teks suci. STT ini, uniknya, ditulis dalam aksara Arab berbahasa Indonesia untuk menjaga tradisi para ulama.

Masa berlakunya hanya dua tahun. “Sengaja diperketat agar penerbit tidak seenaknya mencetak ulang tanpa pengawasan baru,” kata Falahudin. STT juga mencantumkan nama-nama pentashih yang bertanggung jawab, dan kini dilengkapi kode QR yang memuat spesifikasi lengkap mushaf: penerbit, ukuran, hingga kelengkapan kontennya.

Proses pentashihan sendiri adalah pekerjaan yang jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Para pentashih memeriksa rasm (cara penulisan), dhabt (harokat dan tanda baca), nama surah, nomor halaman, nomor ayat, tanda wakaf, hingga tajwid warna, semua diperiksa satu per satu. Kesalahan yang paling sering ditemukan pada penerbit pemula adalah salah harokat, pemegalan ayat yang tidak tepat, dan layouter yang kurang memahami kaidah rasm Utsmani.

Ketika Ilmu Bahasa Arab Berjumpa Al-Qur’an

Falahudin tidak lupa menyentuh satu hal yang relevan bagi mahasiswa di depannya: betapa eratnya hubungan antara ilmu bahasa Arab dan tradisi penjagaan Al-Qur’an. Ia mengingatkan bagaimana Imam Abdul Aswad Ad-Du’ali, tokoh yang dikenal sebagai pencetus ilmu nahwu, juga merupakan sosok yang pertama kali memberi tanda baca pada rasm Utsmani menggunakan sistem titik. Muridnya, Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, yang terkenal sebagai ahli ilmu arudh (prosodi Arab), menyempurnakan sistem dhabt Al-Qur’an lebih jauh.

“Ulama ahli bahasa Arab adalah juga ulama Al-Qur’an,” tegasnya. “Mereka adalah penyambung sanad dari Rasulullah hingga generasi kita hari ini.”

Pesan ini terasa relevan di tengah diskusi soal identitas keilmuan Sastra Arab. Studi bahasa Arab bukan hanya tentang sintaksis dan morfologi dalam ruang kelas, ia berakar langsung pada tradisi penjagaan teks paling penting dalam peradaban Islam.

Peluang yang Menanti Mahasiswa Sastra Arab

Di penghujung sesi, Falahudin membuka cakrawala riset yang masih luas terbuka untuk mahasiswa Sastra Arab. Mushaf Isyarat, misalnya, masih menyimpan banyak pertanyaan tak terjawab: fonem-fonem apa saja yang dapat diakomodasi dan mana yang tidak dalam sistem isyarat tangan? Bagaimana metode pembelajaran Al-Qur’an yang paling efektif bagi komunitas tuli?

Ia juga menyebut peluang magang di Bayt Al-Qur’an, penerbit Al-Qur’an, serta skema MBKM untuk riset terkait mushaf. Bahkan bagi mereka yang memiliki keahlian desain dan layout, bidang yang kerap dianggap “terlalu teknis” untuk jurusan humaniora, tersedia ruang untuk mengerjakan berbagai model mushaf dengan konten beragam. Naskah master mushaf, ia tambahkan, kini tersedia secara gratis untuk diunduh di lajnah.kemenag.go.id dalam format CorelDRAW atau Adobe Illustrator. Sementara buku-buku kajian Lajnah dapat diakses di pustaka.lajnah.kemenag.go.id secara gratis. [adm]

Bagikan:

Berita Terkait

Berita
arab-new

Dorong Prestasi Akademik dan Kompetensi Global Siswa, Tim Jarpak Sastra Arab Gelar Seminar Kebahasaan

SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS–Mahasiswa Program Pembelajaran Berdampak (Jarpak) Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Angkatan 2023 menyelenggarakan seminar bertajuk “Optimalisasi Bahasa Arab sebagai Media Peningkatan Prestasi Akademik dan Kompetensi Global” di Aula MAN PK 1 Surakarta, Ahad (7/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan Yusuf Haikal, S.S., M.Hum., alumni Program

Read More »
Berita
arab-new

Mahasiswa Sastra Arab UNS Ciptakan Cara Baru Memahami Al-Qur’an Melalui Cerita dan Ilustrasi Anak

SURAKARTA, SASTRA ARAB – Tim mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran Al-Qur’an yang lebih ramah dan mudah dipahami oleh anak-anak melalui media cerita dan ilustrasi. Inovasi tersebut merupakan bagian dari Program Hibah Jarpak (Pembelajaran Berdampak) yang diselenggarakan secara internal oleh Universitas Sebelas Maret

Read More »
Berita
arab-new

Saat Sains Membedah Bunyi Bahasa Arab: Kuliah Tamu Sastra Arab UNS

Linguistik Arab dikaji bukan lagi hanya lewat telinga, tetapi juga melalui spektrogram, MRI, dan EEG. Kuliah tamu internasional UNS membuka cakrawala baru dalam studi bahasa Al-Quran. SURAKARTA, SASTRA ARAB — Di balik deretan huruf hijaiyah yang selama ini diajarkan secara turun-temurun lewat hafalan dan imitasi bunyi, tersimpan dunia yang jauh

Read More »