Berkah di Serambi Masjid: Kisah Irwan Merajut Asa Melalui Bisnis ‘Sekarya’

Sore itu, gema suara adzan berkumandang merdu dari balik pengeras suara Masjid Nurhasanah yang terletak di kawasan Jebres, Surakarta. Nada-nadanya panjang, stabil, dan jernih, mengantarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota Solo yang mulai meredup menyambut magrib. Di balik mikrofon itu, berdiri seorang pemuda tegap berwajah ramah. Ia adalah Muhammad Irwan Radianto, mahasiswa semester 4 Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret.

Bagi warga sekitar masjid, Irwan bukan sekadar jemaah biasa. Ia adalah marbot yang mendedikasikan waktu, tenaga, dan ruang hidupnya untuk merawat rumah ibadah tersebut. Namun, jika menelisik lebih dalam ke kehidupan akademis dan luar kampusnya, pemuda kelahiran Yogyakarta, 7 Juni 2004 ini menyimpan segudang cerita perjuangan yang luar biasa. Irwan adalah potret nyata dari seorang mahasiswa yang menolak kalah oleh keadaan, merajut asa di perantauan dengan memeluk erat prinsip kemandirian dan pengabdian.

Berbekal KIP-Kuliah dan Pengabdian di Tanah Rantau

Melangkah ke bangku perkuliahan di UNS bukanlah perkara yang mudah bagi Irwan. Tumbuh besar di Yogyakarta dalam kondisi keluarga yang serba sederhana memantik tekadnya untuk tidak ingin membebani orang tua sama sekali. Pintu gerbang impian itu akhirnya terbuka lewat jalur beasiswa KIP-Kuliah. “Saya berangkat ke Solo dengan satu niat: belajar serius tanpa merepotkan bapak dan ibu di rumah. Tanggung jawab moral beasiswa ini besar sekali,” kenang Irwan saat ditemui di serambi Masjid Nurhasanah.

Demi menghemat biaya hidup sekaligus mencari keberkahan di tanah rantau, Irwan memilih jalan yang jarang diambil oleh mahasiswa sebayanya: menjadi marbot masjid. Ketika mahasiswa lain menghabiskan malam di rumah kos yang nyaman atau kafe-kafe kekinian, Irwan justru akrab dengan rutinitas menyapu, mengepel, membersihkan sajadah, hingga memastikan kelayakan fasilitas masjid sebelum waktu salat tiba.

Namun, hidup Irwan tidak berhenti di dalam batas pagar masjid. Di kampus, kapasitas kepemimpinannya teruji. Ia dipercaya mengemban amanah besar sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat (Sosmas) pada organisasi kerohanian Islam tingkat kampus, JN UKMI. Di bawah komandonya, berbagai program aksi nyata mulai dari bakti sosial, kajian kemasyarakatan, hingga tanggap bencana dirancang untuk menebar manfaat langsung kepada masyarakat luas.

Bangkit dari Kegagalan PKM hingga Membentuk Bisnis ‘Sekarya’

Perjalanan Irwan tidak selalu mulus dan bertabur kemudahan. Pada awal semester lalu, ia sempat merasakan pahitnya kegagalan saat mencoba peruntungan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Proposal yang disusunnya berhari-hari bersama tim harus gugur di tengah jalan dan tidak lolos pendanaan. “Waktu itu sempat drop banget, ngerasa usaha saya sia-sia,” akunya jujur.

Namun, kegagalan justru menjadi guru terbaik bagi Irwan. Ia mengevaluasi setiap kekurangan, memperkuat mentalitasnya, dan kembali bangkit saat Universitas Sebelas Maret membuka keran pendaftaran Program WIBAWA (Wirausahawan Mahasiswa) 2026. Berbekal pengalaman kegagalan masa lalu, Irwan merancang proposal bisnis yang jauh lebih matang bersama seorang rekan kuliahnya.

Strategi tersebut ternyata belum berbuah manis. Proposal bisnis kreatifnya yang diberi nama “Sekarya” belum berhasil lolos dari program WIBAWA. Akan tetapi, irwan tidak menyerah begitu saja. Melalui jiwa semangatnya ia mengajak satu tim nya untuk mencoba merealisasikan bisnis itu dan merancang dengan lebih matang. Berkat kegigihannya irwan bersama timnya,  akhirnya bisnis itu mulai banyak pembelinya sekaligus peminatnya.

Sekarya merupakan sebuah usaha creative gift yang fokus utamanya memproduksi buket bunga segar, buket flanel, hingga buket uang dan jajan (snack) yang sangat diminati mahasiswa untuk keperluan wisuda atau seminar proposal. “Kenapa namanya Sekarya? Karena kami ingin setiap buket yang dipesan tidak hanya dilihat sebagai barang jadi, melainkan dinilai sebagai satu karya seni yang personal dan penuh makna bagi si penerima,” jelas Irwan dengan mata berbinar.

Ia pun membagikan trik khusus bagi mahasiswa lain yang ingin lolos program WIBAWA. Menurutnya, kunci utama ada pada validasi pasar yang riil, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang logis dengan mengutamakan operasional awal daripada alat-alat mahal, serta keterbukaan untuk terus berkonsultasi dan menerima koreksi dari dosen pembimbing.

Seni Mengolah Waktu dan Menjaga Suara

Jadwal harian Irwan sekilas tampak mustahil untuk dijalani oleh mahasiswa biasa. Di luar jam kuliah yang padat, urusan organisasi Sosmas JN UKMI, produksi buket Sekarya, dan tugas marbot, Irwan masih sempat melakoni pekerjaan sampingan sebagai guru privat Tahsin Al-Qur’an dan teknik adzan untuk anak-anak serta remaja di sekitar Jebres.

Saat ditanya bagaimana ia mempertahankan performa fisiknya, Irwan tersenyum dan membeberkan rahasia sederhananya. “Kuncinya ada pada komitmen time-blocking yang ketat,” kata pemuda yang baru saja menginjak usia 22 tahun tersebut.

Irwan membagi harinya ke dalam beberapa blok waktu yang disiplin. Selepas Subuh hingga jam 7 pagi dihabiskannya untuk mengurus kebersihan masjid dan memeriksa pesanan buket Sekarya. Pukul 8 pagi hingga sore hari menjadi jatah mutlak untuk kuliah di Sastra Arab dan mengurus organisasi di sela-sela jeda kelas. Menjelang magrib, ia beralih profesi menjadi guru privat Tahsin tapi itu hanya dilakukan saat hari jumat dan sabtu, dan selepas Isya barulah ia menyentuh tugas kuliah atau memproduksi buket jika ada pesanan untuk keesokan harinya. “Kurangi waktu nongkrong yang kurang perlu. Kalau lelah, istirahat, jangan dipaksa,” tambahnya.

Hebatnya, di tengah kepungan aktivitas tersebut, Irwan berhasil menjaga konsistensi nilai akademiknya dengan IPK yang selalu stabil di atas 3,5. Baginya yang memegang beasiswa KIP-K, penurunan nilai adalah ancaman besar. Triknya terbilang cerdas: memaksimalkan fokus 100% di dalam ruang kelas saat dosen mengajar. Karena waktu belajarnya di luar kelas sangat minim, menyimak secara aktif dan mencatat poin-poin penting adalah senjatanya untuk menghadapi ujian tanpa perlu menerapkan sistem kejar semalam (SKS).

Bahkan untuk urusan suaranya yang merdu saat mengumandangkan adzan dan mengajar tahsin, Irwan memiliki ritual perawatan sendiri. Ia rutin melatih pernapasan diafragma agar nafasnya panjang dan tidak terputus di tengah ayat, rajin tilawah harian sebagai pemanasan pita suara, serta secara ketat mengurangi konsumsi gorengan dan air es demi menjaga kejelasan makharijul huruf-nya.

Menatap masa depan, Irwan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang, melainkan sebuah batu pijakan untuk melompat lebih tinggi. Dari serambi Masjid Nurhasanah, lewat lembaran-lembaran kitab Sastra Arab, hingga keindahan rangkaian bunga Sekarya, Muhammad Irwan Radianto sedang menuliskan cerita indahnya sendiri sebuah narasi tentang kerja keras, doa, dan keteguhan hati yang akan terkenang oleh waktu.

[Penulis: Muhammad Nabil Musaffa]

Bagikan:

Berita Terkait

blog
arab-new

Bermula dari Benci, Cerita Afif tentang Cintanya pada Bahasa Arab

Bagi sebagian mahasiswa, memilih jurusan bahasa asing adalah sebagai pilihan terakhir atau sebagai pelarian. Tak sedikit dari mereka yang mengaku lebih baik kuliah daripada tidak samasekali. Namun berbeda dengan Muhammad Fikri Al-Afif. Pria yang akrab disapa dengan Afif ini memilih Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret

Read More »
Berita
arab-new

Dorong Prestasi Akademik dan Kompetensi Global Siswa, Tim Jarpak Sastra Arab Gelar Seminar Kebahasaan

SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS–Mahasiswa Program Pembelajaran Berdampak (Jarpak) Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Angkatan 2023 menyelenggarakan seminar bertajuk “Optimalisasi Bahasa Arab sebagai Media Peningkatan Prestasi Akademik dan Kompetensi Global” di Aula MAN PK 1 Surakarta, Ahad (7/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan Yusuf Haikal, S.S., M.Hum., alumni Program

Read More »
Berita
arab-new

Mahasiswa Sastra Arab UNS Ciptakan Cara Baru Memahami Al-Qur’an Melalui Cerita dan Ilustrasi Anak

SURAKARTA, SASTRA ARAB – Tim mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran Al-Qur’an yang lebih ramah dan mudah dipahami oleh anak-anak melalui media cerita dan ilustrasi. Inovasi tersebut merupakan bagian dari Program Hibah Jarpak (Pembelajaran Berdampak) yang diselenggarakan secara internal oleh Universitas Sebelas Maret

Read More »