
Lebih dari seratus jendela kecil memenuhi layar Zoom. Di balik masing-masing jendela itu, mahasiswa dari berbagai kota duduk dengan satu pertanyaan yang mungkin belum pernah mereka ucapkan keras-keras: mengapa kuliah terasa begitu berat?
Ketua Program Studi Sastra Arab, Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Reza Sukma Nugraha, menyambut sekitar 140 peserta yang hadir daring dalam Seminar Kesehatan Mental dengan tema “Normalizing the Struggle: Mengelola Stres Selama Berproses Menuju Lulus” yang diselenggarakan prodinya, Jumat (22/5/2026). Peserta bukan hanya mahasiswa UNS. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, bergabung lewat Zoom Cloud Meeting, membawa keingintahuan dan, kemungkinan besar, juga kegelisahan masing-masing.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNS, Dr. Dwi Susanto, membuka acara dan memberikan sambutan. Persoalan kesehatan mental mahasiswa, katanya, bukan isu yang bisa terus diabaikan. Dua tahun silam, UNS mendirikan layanan psikologi Sasmita Djiwa sebagai respons atas meningkatnya kasus stres dan kecemasan di lingkungan kampus. Oleh karena itu, Dwi mengapresiasi seminar Sastra Arab tersebut.
“Banyak mahasiswa mengalami tekanan yang tidak terlihat dari luar,” ujar Dr. Dwi.
Bukan Gangguan Jiwa
Muhammad Syibbli Zainbrin, M.Psi., Psikolog, narasumber seminar ini, memulai presentasinya dengan melontarkan beberapa pertanyaan.
“Menurut kalian, stres itu mitos atau fakta?”
Jawaban peserta beragam. Ada yang mengira stres adalah tanda kelemahan. Ada yang beranggapan hanya mahasiswa semester akhir yang mengalaminya. Psikolog klinis itu mendengarkan, lalu meluruskan satu per satu.
Stres, ia jelaskan, adalah respons fisiologis yang wajar. Bukan gangguan jiwa, bukan pertanda seseorang tidak kuat. Ia adalah sinyal dari tubuh dan pikiran bahwa ada sesuatu yang perlu perhatian. Yang membedakan stres yang sehat dan yang merusak bukan soal ada atau tidaknya tekanan, melainkan soal bagaimana seseorang mengelolanya.
“Stres bisa jadi bahan bakar. Tapi kalau terus menumpuk tanpa pengelolaan yang baik, ia bisa jadi racun,” kata Syibbli.
Semester Empat dan Jerawat yang Tiba-tiba
Sesi diskusi menjadi bagian paling hidup dari seminar ini. Syibbli meminta peserta menjawab: semester berapa yang paling menegangkan?
Mayoritas menjawab semester empat.
Di titik itu, banyak mahasiswa mulai berhadapan serius dengan beban akademik yang sesungguhnya, proposal penelitian, tekanan dari dosen, pertanyaan soal arah hidup. Gejalanya bermacam-macam. Ada yang pusing mendadak. Selain itu, persoalan tidak bisa tidur. Bahkan, ada yang terlalu banyak berpikir hingga tidak bisa mengerjakan apa-apa. Dan ada juga yang mengundang tawa sekaligus anggukan dari para peserta, jerawat yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.
“Jerawat itu bisa jadi tanda stres,” kata Syibbli. “Tubuh kita berkomunikasi. Pertanyaannya, apakah kita mau mendengarkan?”
Peserta lain menambahkan bahwa bergaul dengan teman kadang membantu, tapi tidak selalu. Tergantung, kata mereka, pada kualitas pertemanan itu sendiri.
Botol yang Tak Pernah Diletakkan
Untuk menjelaskan bagaimana stres bekerja dari waktu ke waktu, Syibbli menggunakan gambaran yang sederhana. Bayangkan seseorang memegang sebotol air yang berat. Satu menit tidak terasa. Sejam, lengan mulai pegal. Seharian penuh, tubuh tidak akan tahan.
“Masalahnya bukan berat botolnya. Masalahnya adalah kita tidak pernah meletakkannya,” ujarnya.
Dari situ ia memperkenalkan tiga cara mengelola stres. Pertama, pendekatan berbasis emosi: meditasi, olahraga, relaksasi progresif. Kedua, pendekatan berbasis masalah: langsung menghadapi dan menyelesaikan sumber tekanan. Ketiga, pendekatan menghindar: menciptakan jarak sementara dari situasi yang menekan.
Syibbli memperingatkan soal yang terakhir. Mengambil jeda itu sah dan perlu. Tapi menjadikan penundaan sebagai cara hidup adalah perkara berbeda.
“Prokrastinasi bukan istirahat. Itu cuma stres yang ditunda,” katanya.
Ia juga memperkenalkan metode SMART Goals, cara menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, realistis, dan terikat waktu, sebagai alat agar mahasiswa tidak tenggelam dalam target yang kabur. Tapi ia mengingatkan satu syarat yang kerap dilupakan: penerimaan diri.
Perfeksionis yang tidak bisa berdamai dengan ketidaksempurnaan, katanya, adalah yang paling rentan mengalami kelelahan. “Kuliah bukan tentang nilai sempurna. Ia tentang proses menjadi manusia yang lebih utuh.”
Curhat ke AI, Apakah Cukup?
Sesi tanya jawab membuka percakapan yang lebih personal. Salah satu mahasiswa Sastra Arab, Alif, mengajukan pertanyaan yang terasa dekat dengan keseharian banyak mahasiswa: apakah menggunakan kecerdasan buatan sebagai tempat curhat itu sehat?
Syibbli tidak melarang, tapi juga tidak menganjurkan begitu saja. AI bisa membantu untuk tugas-tugas tertentu, bahkan untuk melampiaskan perasaan yang mengganjal. Namun riset menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI untuk urusan emosional justru bisa memperparah rasa kesepian dan menghambat seseorang membangun hubungan manusiawi.
“Curhat ke AI itu seperti makan makanan pengganti. Bisa mengganjal, tapi tidak memberikan nutrisi yang lengkap,” ujarnya.
Pertanyaan-pertanyaan lain mengalir. Soal kualitas tidur yang memburuk saat tekanan menumpuk, Syibbli menyarankan menghindari kafein dan gula menjelang tidur, menjaga kebersihan tidur, dan berolahraga secara teratur. Lalu, masalah pola keterikatan emosional yang terbentuk sejak kecil dan pengaruhnya pada hubungan di masa dewasa. Selain itu, bagaimana cara menolong teman yang tampak sedang dalam krisis.
Untuk yang terakhir, Syibbli menekankan pentingnya mendengarkan aktif, hadir tanpa menghakimi, dan mengenali kapan seseorang perlu dirujuk ke bantuan profesional.
Syibbli menutup presentasinya dengan sebuah pernyataan reflektif. “Tantangan itu bukan penghalang tumbuh. Ia adalah cara kita tumbuh. Terutama di usia di bawah 25, ketika otak dan mental kita sedang dalam perkembangan terbaiknya.”
Acara ini merupakan upaya Prodi Sastra Arab UNS untuk memberikan literasi kesehatan mental kepada mahasiswa. Harapannya adalah mahasiswa dapat mengenali gejala dan tanda-tanda gangguan psikologis pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, mereka bisa mengikuti pembelajaran dengan manajemen stres yang baik hingga lulus. [adm]









