
SUKOHARJO, SASTRA ARAB — Layar proyektor di sebuah ruangan sederhana di Jalan Srikoyo, Kemasan, Ngadirejo, Kartasura, menyalakan satu pertanyaan yang menggugat kegelisahan banyak orangtua dan guru hari ini: bagaimana mendidik anak di tengah gempuran video pendek yang mengikis rentang perhatian, sementara kasus perundungan (bullying) di sekolah terus berulang muncul di linimasa. Pertanyaan itu menjadi titik berangkat pelatihan bertajuk “Mendidik dengan Sastra” yang digelar Yayasan Abata Movement Indonesia bagi para guru dan relawannya, Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi Grup Riset Kebudayaan Timur Tengah. Sebagai narasumber tunggal, hadir Reza Sukma Nugraha, dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS), yang membawa perspektif sastra sebagai jalan pedagogis sekaligus terapeutik bagi anak-anak.
Ketika Layar Mengalahkan Halaman Buku
Dalam paparannya, Reza memulai dengan memotret sejumlah fenomena yang belakangan ramai diberitakan media: siswa sekolah dasar yang membentak gurunya dengan kata-kata kasar, tren video pendek di media sosial yang mengancam kemampuan konsentrasi anak, hingga maraknya kasus perundungan yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai krisis komunikasi empati. Ia menilai deretan persoalan tersebut bukan gejala yang berdiri sendiri, melainkan simtom dari lingkungan literasi yang timpang, di mana anak lebih akrab dengan tayangan cepat ketimbang narasi yang membangun kedalaman berpikir dan rasa.
Dari titik itulah sastra ditawarkan bukan sebagai pelajaran hafalan, melainkan sebagai penawar. Reza menjelaskan bahwa karya sastra memiliki tiga watak dasar: ia adalah ekspresi seni lewat bahasa, cerminan atau mimesis dari dunia dan pikiran manusia, sekaligus memiliki efek katarsis bagi jiwa pembacanya. Ia turut menyinggung tradisi keilmuan Arab yang menyebut sastra sebagai adab, sebuah istilah yang menurutnya menyiratkan fungsi sastra untuk mengasah budi pekerti dan menjauhkan manusia dari keburukan lewat keindahan bahasa, sebagaimana pernah dirumuskan pemikir Mesir, Ahmad Hasan az-Zayyat.

Sastra sebagai Ruang Aman bagi Anak
Pembahasan kemudian bergeser ke apa yang disebut Reza sebagai fungsi terapeutik sastra. Menurutnya, cerita memberi anak ruang imajinasi dan pelarian yang sehat, sarana melatih kepekaan emosional, menumbuhkan empati, sekaligus melatih fokus dan konsentrasi yang belakangan tergerus oleh konten berdurasi pendek. Sastra juga mendorong anak melakukan refleksi diri dan memecahkan masalah secara imajinatif, termasuk lewat kegiatan menulis ekspresif yang membantu anak melepaskan emosi secara terstruktur.
Reza menautkan gagasan tersebut dengan sejumlah teori tumbuh kembang anak yang telah mapan dalam psikologi perkembangan: tahapan kognitif Jean Piaget, tahapan psikososial Erik Erikson, hingga tahapan perkembangan moral Lawrence Kohlberg. Ia juga memaparkan bagaimana imajinasi anak berkembang bertahap sejak usia dini, dari kemampuan meniru ekspresi wajah pada bulan-bulan pertama kehidupan, bermain simbolis pada usia satu-dua tahun, hingga kemampuan menciptakan karakter dan skenario cerita sendiri pada usia lima-enam tahun. Bagi Reza, pemahaman atas tahapan ini penting agar guru dan relawan tidak salah memilih bahan bacaan yang justru tak sejalan dengan kesiapan psikologis anak.
Tiga Dimensi yang Dilatih
Materi pelatihan kemudian menguraikan tiga dimensi yang dapat dilatih lewat sastra anak. Dimensi kognitif melatih kosakata, kemampuan berbahasa, serta daya inferensi dan prediksi anak saat membaca alur cerita, misalnya lewat latihan membaca alur yang tidak linear. Dimensi afektif melatih empati dan kepekaan emosi, antara lain lewat diskusi bertema “Andai Aku Jadi Tokoh Itu” yang mengajak anak memahami perspektif dan motif tokoh cerita. Adapun dimensi kreatif-bahasa mengasah apresiasi anak terhadap keindahan bahasa lewat majas, diksi, dan ritme, yang dapat dipraktikkan lewat kegiatan menulis ulang akhir cerita atau menciptakan puisi pendek.
Kepada para guru dan relawan, Reza turut membagikan panduan memilih bacaan anak yang berkualitas, yang ia ringkas dalam tiga prinsip: content atau isi yang relevan secara moral dan sesuai tahap usia, craftsmanship atau kualitas bahasa yang indah dan mendidik tanpa menggurui, serta context atau konteks budaya yang memperkenalkan keragaman lokal, nasional, maupun global kepada anak.
Dari Membaca Nyaring ke Diskusi Terbuka
Bagian praktik pelatihan menyasar teknik yang bisa langsung diterapkan guru dan relawan di kelas. Salah satunya teknik membaca nyaring (read aloud), yang menuntut pengaturan intonasi, tempo, dan jeda, ditambah ekspresi wajah serta kontak mata untuk membangun suasana cerita, dan diawali aktivitas pra-membaca yang memancing prediksi anak dari judul atau sampul buku.
Reza juga mendorong para peserta meninggalkan pola tanya-jawab ala kuis dan beralih ke diskusi terbuka seusai membaca cerita, dengan tiga jenis pertanyaan kunci: pertanyaan inferensi soal alasan di balik keputusan tokoh, pertanyaan koneksi yang menautkan cerita dengan pengalaman pribadi anak, serta pertanyaan evaluasi tentang apakah akhir cerita terasa memuaskan. Kegiatan pascamembaca berupa proyek kreatif, seperti mengubah cerita menjadi drama singkat, menggambar adegan paling berkesan, atau menulis surat untuk salah satu tokoh, disebutnya sebagai cara mengunci pemahaman sekaligus menumbuhkan kegemaran anak pada dunia baca.
Di penghujung sesi, Reza mengutip pemikir fisika Albert Einstein yang pernah menyebut dongeng sebagai jalan untuk membuat anak lebih cerdas, dan semakin banyak dongeng untuk membuat mereka lebih cerdas lagi. Baginya, kalimat itu meneguhkan posisi sastra bukan sebagai pelengkap kurikulum, melainkan fondasi bagi tumbuhnya nalar sekaligus nurani anak.
Kegiatan pembinaan ini menjadi bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat yang berkelanjutan antara Grup Riset Kebudayaan Timur Tengah dan Yayasan Abata Movement Indonesia, dengan harapan para guru dan relawan dapat membawa pulang metode ini ke ruang-ruang belajar mereka masing-masing di Kartasura dan sekitarnya.










