
Bagi sebagian mahasiswa, memilih jurusan bahasa asing adalah sebagai pilihan terakhir atau sebagai pelarian. Tak sedikit dari mereka yang mengaku lebih baik kuliah daripada tidak samasekali. Namun berbeda dengan Muhammad Fikri Al-Afif. Pria yang akrab disapa dengan Afif ini memilih Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret karena kecintaannya dengan bahasa Arab. Baginya Sastra Arab bukanlah sebuah pelarian namun sebuah kecintaan yang ingin terus dijaga demi sebuah mimpi yang ada.
Banyak orang mengira Afif adalah sebuah seorang jenius sejati yang bisa menguasai bahasa Arab hanya dalam sekejap. Namun ekspektasi tak seindah realita. Semua orang hanya melihat hasil tanpa melihat proses, begitulah kebanyakan orang menilai diri kita. Afifpun hanyalah seorang manusia biasa yang dulunya juga pernah kesusahan. Ia bukan seorang jenius yang biasa menguasai bahasa Arab dalam semalam. Afif juga pernah mengalami masa-masa pahit yang teman-teman tidak ketahui. Afif menempuh pendidikan mulai dari TK Aisyiyah, SD Muhammadiyah Salatiga, SMP Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta, hingga mematangkan karakternya di SMA Al Irsyad Tengaran. Inilah kisah King Afif dalam menguasai bahasa Arab.
Dari Benci Jadi Candu
Banyak orang tidak tahu bahwa Afif dulunya juga benci dengan bahasa Arab. Kebenciannya terhadap bahasa Arab disebabkan karena gramatikalnya yang sulit dan kompleks sehingga membuat seorang Afif kesusahan dalam mempelajarinya. Semakin lama mempelajari bahasa Arab membuatnya makin benci karena saking susahnya untuk memahami dan mempelajari bahasa Arab. Namun, siapa sangka perlahan rasa benci itu justru mengubahnya menjadi cinta. Makin lama belajar bahasa Arab makin tertarik. Justru karena rasa susahnya dalam mempelajari bahasa Arab secara tidak langsung membuat Afif menjadi tertantang dalam mempelajarinya.
Sedikit demi sedikit Afif bangkit, ia tidak menyerah begitu saja dalam mempelajari bahasa Arab. Menginjak masa SMA Afifpun mulai belajar bahasa Arab sedikit lebih serius. Perlahan tapi pasti Afif mulai berusaha untuk bisa paham dan menguasai materi-materi bahasa Arab yang ada. Afifpun mulai menyusun rencana belajar yang lebih matang demi menguasai bahasa Arab. Perjuangan di masa SMA pun berhasil, ia memang belum terlalu mahir pada bahasa Arab namun ia berhasil menguasai dan menghafal 2.000 kosakata dari satu kamus. Bekal inilah yang nantinya akan mengubah Afif di masa depan nanti.
Dua Ribu Kata Jadi Modal
Setelah lulus dari SMA Islam Al Irsyad Tengaran, Afifpun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Program Studi Sastra Arab UNS. Ketika masuk ke Sastra Arab UNS, Afif memiliki modal 2.000 kosakata yang ia hafal pada masa SMA.”Ketika memasuki Sastra Arab UNS ini, entah kenapa kecintaan saya terhadap bahasa Arab justru semakin bertambah,” ujar Afif. Begitulah pengakuan Afif yang sungguh mengejutkan. Ternyata rasa belajarnya tidak semudah itu padam. Justru ketika memasuki perkuliahan rasa untuk menguasai bahasa Arab semakin menggebu-nggebu. Afif semakin cinta dan tekadnya makin besar untuk menguasai bahasa Arab. Selama masa perkuliahan Afif selalu memperhatikan pelajaran dengan fokus. “Penyesalanku dulu adalah selalu menghiraukan pelajaran nahwu, shorof, dan pelajaran lainnya yang berkaitan dengan bahasa Arab karena aku nganggep itu gapenting,” begitulah pengakuan Afif. Penyesalan di masa lalu mengubahnya di masa sekarang. Afif yang dulu bukanlah yang sekarang.
Dulu ia selalu menghiraukan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan bahasa Arab, sekarang justru sangat fokus dan serius dengan bahasa Arab. Afif tidak mau mengulang kesalahan yang ada pada masa lalu. Semakin lama berkuliah Afifpun semakin mahir berbahasa Arab. Afif tidak pernah malu bertanya kepada dosen. Bahkan sampai rela mendatangi kantor dosen demi bertanya suatu materi. Tidak hanya itu perlahan ia dipercaya teman-temannya karena sangat mahir bahasa Arab. Afif sering mengajari teman-temannya yang masih kesusahan dalam memahami bahasa Arab.
Sekarang Afif menjadi Kepala Bidang Pembelajaran di Himpunan Sastra Arab UNS. Bidang Pembelajaran ini kebetulan mempunyai program kerja BASMA × LUSTUSEN. BASMA yaitu singkatan dari Bi’ah Arabiyyah Sebelas Maret dan LUSTUSEN adalah singkatan dari Lulus Seratus Persen. Singkatnya adalah kegiatan belajar bersama guna membantu teman-teman Sastra Arab dalam memahami pelajaran yang ada. Afifpun sering mengajar di BASMA × LUSTUSEN ini secara sukarela bahkan malah ia sendiri yang menyediakan makanan untuk orang yang hadir. Bayangkan saja sudah mengajar secara sukarela tapi malah ia juga yang menyediakan konsumsinya. Sungguh dermawan sekali Afif ini. Saking baik dan pintarnya Afif, ia memiliki julukan yaitu “King Afif”. Julukan ini bukanlah sekadar julukan, namun karena sikap dan ilmu yang dimiliki olehnya membuat teman-teman memanggilnya King Afif.
Mimpi dan Tujuan yang Baru
Berkat segala usaha dan doa yang telah dijalani sekarang Afif sudah memiliki sertifikat untuk mengajar bahasa Arab. Mimpinya adalah menghidupkan bahasa Arab di lingkungan UNS. Afif sadar bahwa ia tidak bisa memaksa kehendak setiap orang untuk mempelajari bahasa Arab. Mengubah taktik dan strategi yang ada Afif memilih untuk merangkul dan mengajak teman-teman untuk lebih aktif dalam berbahasa Arab. Afif sangat gemar untuk mensyiarkan bahasa Arab ini secara sukarela. Ia menjuluki dirinya sebagai “Pecinta Bahasa Arab”. Bagi dirinya banyak alasan untuk mempelajari bahasa Arab dan alasan yang paling utama adalah karena ini bahasa surga sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W. Oleh karena itu Afif tidak puas hanya dengan mempelajari bahasa Arab sendiri. Tapi ia memiliki mimpi untuk menyebarkan ilmunya kepada orang-orang dengan tujuan menghidupkan bahasa Arab sebagai bahasa surga.
[Penulis: Maulana Ghulam Abdullah]










