Linguistik Arab dikaji bukan lagi hanya lewat telinga, tetapi juga melalui spektrogram, MRI, dan EEG. Kuliah tamu internasional UNS membuka cakrawala baru dalam studi bahasa Al-Quran.

SURAKARTA, SASTRA ARAB — Di balik deretan huruf hijaiyah yang selama ini diajarkan secara turun-temurun lewat hafalan dan imitasi bunyi, tersimpan dunia yang jauh lebih kompleks: gelombang suara yang bisa diukur, gerakan lidah yang bisa dipetakan lewat pencitraan resonansi magnetik, dan aktivitas otak yang bisa direkam menggunakan elektroensefalografi.
Itulah yang dipaparkan Dr. Muhammad Ridha bin Ali Huddin, dosen dari Departemen Bahasa Arab dan Bahasa Timur Tengah, Fakultas Bahasa dan Linguistik, Universiti Malaya, dalam kuliah tamu internasional bertajuk “Lensa Saintifik dalam Linguistik Arab” yang diselenggarakan secara daring via Zoom Cloud Meeting, Kamis, 25 Juni 2026.
Kuliah ini digelar atas kerja sama Program Studi Sastra Arab dan Program Studi S-2 Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Dr. Arifuddin, Lc., M.A., dosen Sastra Arab UNS, bertindak sebagai moderator.
Dari Tajwid ke Spektrogram
Dalam paparannya, Dr. Muhammad Ridha menjelaskan bahwa linguistik Arab selama ini cenderung dikaji secara deskriptif dan tradisional, berpijak pada ilmu Tajwid dan pewarisan lisan dari generasi ke generasi. Padahal, pendekatan saintifik modern mampu memberikan pengukuran yang jauh lebih objektif terhadap bunyi-bunyi bahasa Arab.
“Dengan alat seperti spektrogram dan perangkat lunak Praat, kita bisa mengukur frekuensi, amplitudo, dan durasi setiap fonem secara tepat. Ini melampaui apa yang bisa ditangkap telinga manusia,” ujar Dr. Muhammad Ridha.
Spektrogram, yang menampilkan representasi visual dari gelombang suara dalam dimensi waktu dan frekuensi, memungkinkan peneliti membandingkan perbedaan durasi vokal antara dialek bahasa Arab formal (fusha) dan dialek sehari-hari (amiyya). Temuan ini, kata dia, membuka peluang baru dalam pemahaman variasi dialek yang selama ini hanya didekati secara auditif.
Ia juga memperkenalkan penggunaan MRI dan functional MRI (fMRI) untuk mengkaji pergerakan lidah dan aktivitas otak secara real-time ketika seseorang memproduksi bunyi-bunyi khas Arab. Teknologi ultrasound dan EEG turut disebut sebagai alat bantu dalam meneliti aspek neurolinguistik dari pengucapan bahasa Arab.
Tantangan ‘Ain dan Ra’
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah pembahasan tentang mengapa sejumlah bunyi Arab terasa sangat sulit bagi penutur bahasa lain, termasuk penutur Bahasa Indonesia.
Dr. Muhammad Ridha menjelaskan, kesulitan pengucapan bunyi seperti ‘ain (ع) dan ra’ (ر) bukan semata soal latihan yang kurang, melainkan ada penjelasan ilmiahnya. “Ketika bahasa ibu seseorang tidak mengenal bunyi tertentu, sistem fonologis otaknya tidak memiliki ‘slot’ untuk bunyi itu. Terjadi apa yang disebut fossilisasi antarbahasa, di mana pelajar mengembangkan sistem bunyi hibrida yang mencampur bahasa pertama dan bahasa keduanya,” tuturnya.
Fenomena ini, menurut dia, bukan kegagalan belajar, melainkan proses alami yang perlu dipahami oleh para pengajar bahasa Arab agar bisa merancang strategi pengajaran yang lebih efektif dan berbasis bukti.
Standar Baca Al-Qur’an yang Belum Baku
Pembahasan makin tajam ketika mahasiswa Sastra Arab, Auliannisa, mengangkat proyeknya tentang pengembangan instrumen Tahsin berbasis pengukuran fonetik untuk anak usia lima hingga dua belas tahun.
Auliannisa mengungkapkan kebutuhan akan standar pengukuran yang objektif untuk menilai ketepatan bacaan Al-Quran. Namun Dr. Muhammad Ridha memberikan catatan kritis: hingga kini, belum ada standar baku yang disepakati secara ilmiah mengenai durasi dan frekuensi ideal setiap huruf hijaiyah dalam bacaan Al-Quran.
“Penilaian bacaan Al-Quran saat ini masih bersifat impresionistik, bergantung pada persepsi guru atau penguji. Memang ada kajian-kajian fonetik yang relevan, tetapi belum ada kesepakatan tentang parameternya,” ujar Dr. Muhammad Ridha. Ia melihat ini sebagai celah penelitian yang perlu diisi, dan menyatakan terbuka untuk kolaborasi lebih lanjut.
Otak, Hafalan, dan Batas Usia
Sesi tanya jawab membawa diskusi ke wilayah yang tak kalah menarik: kemampuan hafalan dan batas usia.
Dr. Arifuddin mempertanyakan mengapa anak-anak tampak lebih mudah menghafal Al-Quran dibandingkan orang dewasa. Dr. Muhammad Ridha menjelaskan bahwa ini berkaitan erat dengan working memory atau memori kerja, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan memanipulasi informasi secara sementara.
“Kapasitas memori kerja memang cenderung menurun seiring usia. Ini berbeda dengan kecerdasan umum atau IQ, yang justru cenderung meningkat seiring bertambahnya pengalaman dan pengetahuan,” jelasnya. Pemahaman ini, menurut dia, seharusnya memengaruhi cara lembaga pendidikan Al-Quran merancang metode pengajaran untuk berbagai kelompok usia.
Morfologi Arab di Otak
Pertanyaan lain yang muncul dari peserta berkaitan dengan bagaimana otak memproses morfologi bahasa Arab yang kaya dan kompleks. Dr. Muhammad Ridha menjelaskan bahwa penelitian neurolinguistik menunjukkan akar kata (root) dalam bahasa Arab diproses lebih cepat oleh otak dibandingkan pola turunan kata, karena struktur akar yang seragam lebih mudah dikenali oleh sistem saraf.
“Ini menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki kekhasan tersendiri dalam cara otak memprosesnya, berbeda dari bahasa-bahasa dengan morfologi yang lebih linier,” ujarnya.
Ia juga menanggapi pertanyaan soal kesalahan transkripsi otomatis pada teks Arab di platform digital seperti YouTube. Menurutnya, kesalahan tersebut lebih banyak disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan linguistik dari sistem kecerdasan buatan yang digunakan, bukan karena kesalahan pengucapan penutur asli.
Jembatan Dua Universitas
Dekan FIB UNS, Dwi Susanto, dalam sambutannya menekankan bahwa kuliah tamu ini merupakan bagian dari hubungan akademik yang telah terjalin antara UNS dan Universiti Malaya, terutama melalui seminar bersama dan program mobiliti mahasiswa.
Kuliah ini pun ditutup dengan diskusi tentang kemungkinan kerja sama penelitian lebih lanjut antara Dr. Arifuddin dan Dr. Muhammad Ridha, khususnya di bidang fonetik Al-Quran dan neurolinguistik bahasa Arab, sebuah ranah yang, di Indonesia, masih sangat terbuka untuk dikerjakan secara serius dan sistematis. [adm]










