Dalam kajian sastra kontemporer, diskursus tentang poskolonialisme telah menghadirkan berbagai perspektif yang menarik untuk terus digali dan didiskusikan. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, narasi kolonialisme tidak lagi sekadar dipahami sebagai catatan historis. Ia telah bertransformasi menjadi jejaring kompleks yang masih mewarnai produksi sastra hingga hari ini, memengaruhi cara pandang, identitas, dan ekspresi kultural masyarakat pascakolonial. Kami mengundang para pengkaji sastra dari berbagai tradisi dan wilayah untuk berkontribusi dalam buku antologi “Membaca Ulang Kolonialisme: Perspektif Lintas Sastra Tentang Penjajah dan Terjajah”. Buku ini dirancang untuk menghadirkan berbagai perspektif tentang bagaimana sastra-sastra nasional—baik dari negara bekas penjajah maupun terjajah—menegosiasikan pengalaman kolonial mereka dalam bentuk-bentuk naratif yang kompleks. Antologi ini menghadirkan sebuah dialog produktif yang menggali bagaimana sastra dari negara-negara terjajah mengolah trauma kolonial menjadi resistensi kreatif; bagaimana sastra dari negara-negara bekas penjajah bergulat dengan warisan kolonial mereka; serta bagaimana kedua pengalaman yang berbeda ini—menjajah dan dijajah—sama-sama membentuk kompleksitas produksi sastra. Melalui pendekatan lintasbudaya, antologi ini berupaya membangun pemahaman baru tentang dinamika poskolonial dalam sastra. Kami mengundang artikel yang mengeksplorasi, tetapi tidak terbatas pada, tema-tema berikut: Dengan menggabungkan kerangka teoretis poskolonial dan analisis tekstual, antologi ini diharapkan memperkaya kajian sastra poskolonial sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami relasi antara kekuasaan, identitas, dan produksi kultural. SISTEMATIKA PENULISAN ARTIKEL KETENTUAN TEKNIS CATATAN
Adil Al Huda Terpilih Pimpin HMP QIS’AR UNS 2025
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Adil Al Huda terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Arab (HMP QIS’AR) Universitas Sebelas Maret (UNS) periode 2025 dalam Musyawarah Besar (Mubes) yang digelar di Ruang 301 Gedung 1 Fakultas Ilmu Budaya, Sabtu (7/12/2024). Alif Al Hilal Ahmad, S.S., M.A., selaku pembina HMP QIS’AR dalam sambutannya menyampaikan harapan kepada pengurus baru. “Kepengurusan 2024 telah menunjukkan kinerja yang baik. Semoga pengurus baru bisa melanjutkan dan meningkatkan capaian tersebut,” ujarnya. Dr. Reza Sukma Nugraha, M.Hum., Ketua Program Studi Sastra Arab UNS, mendorong agar HMP QIS’AR terus bersinergi dengan program studi. “HMP diharapkan mampu mendukung terciptanya ruang belajar yang baik, bermanfaat, dan menyenangkan untuk mahasiswa Sastra Arab,” jelasnya. Musyawarah besar ini juga menandai berakhirnya masa kepengurusan Farid Fajar yang telah berhasil menjalankan berbagai program kerja dengan baik selama periode 2024. Reza menambahkan bahwa aktivitas berorganisasi di HMP bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar manajemen diri dan kepemimpinan tanpa mengesampingkan prestasi akademik. “Keduanya harus berjalan seimbang,” tegasnya. [adm]
Kuliah dan Organisasi Bisa Selaras, Ini Kata Dosen Sastra Arab UNS
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Tantangan terbesar mahasiswa aktivis adalah menyeimbangkan prestasi akademik dan kegiatan organisasi. Hal ini menjadi fokus pembahasan Dr. Reza Sukma Nugraha, M.Hum. dalam Upgrading Sahabat Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS), Jumat (6/12/2024). “Academic first, tapi tidak academic only,” kata Ketua Program Studi Sastra Arab UNS ini, mengawali diskusinya dengan puluhan aktivis Masjid Nurul Huda UNS. Ia berbagi kisah perjalanannya dari seorang wartawan kampus di masa kuliah hingga kini menjadi pengajar. “Pengalaman di organisasi justru memperkaya wawasan dan membentuk karakter kepemimpinan yang tidak didapat di ruang kuliah,” jelasnya, mengingat masa-masa aktif di Pers Mahasiswa semasa kuliah di Bandung. Di hadapan para mahasiswa, dosen yang menyelesaikan S-3 di Universitas Indonesia dengan Beasiswa LPDP ini menekankan pentingnya mengelola prioritas. “Organisasi bisa menjadi penguat akademik, bukan untuk dikorbankan satu sama lain. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola waktu dengan bijak,” tegasnya. “Quality over quantity. Fokus pada kualitas, bukan sekadar mengejar kuantitas kegiatan,” tambah dosen yang juga editor buku ini. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan, melainkan seberapa besar dampak yang dihasilkan. Membangun Karakter Kepemimpinan “Kepemimpinan yang efektif dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri,” ujar Reza. Ia menekankan pentingnya kemampuan memetakan prioritas antara hal yang penting dan mendesak, jangka pendek dan jangka panjang, serta kebutuhan individual dan kolektif. “Di era yang penuh tantangan ini, mahasiswa dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. Prestasi akademik yang diimbangi dengan pengalaman organisasi akan menjadi bekal berharga untuk berkontribusi di masyarakat,” tutupnya. Upgrading Sahabat Masjid ini merupakan salah satu upaya Takmir Masjid Nurul Huda UNS untuk membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dengan landasan nilai-nilai keislaman. [adm]
Jadi Penelaah Kebijakan Kantor Bahasa Gorontalo, Alumni Sastra Arab UNS Kelola KBBI
GORONTALO, Sastra Arab UNS — Kepercayaan diri dan kemauan keluar dari zona nyaman membawa Ulfah Nurul Amanah meniti karier di Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo. Alumni Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) ini kini menjabat sebagai Penelaah Teknis Kebijakan yang bertugas menjadi editor Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). “Setelah tiga kali gagal tes CPNS, saya menyadari harus keluar dari zona nyaman,” kenang alumnus angkatan 2013 ini. Ia mengubah strategi belajarnya dengan fokus pada materi yang tidak dikuasai, seperti matematika dan sejarah. Usahanya berbuah manis saat mendaftar sebagai Analis Kata dan Istilah. “Saya mendapat nilai tertinggi di SKD dan akhirnya lulus SKB setelah mempelajari program kementerian serta tugas dan fungsi Badan Bahasa,” jelasnya. Di Kantor Bahasa Gorontalo, Ulfah masuk dalam Kelompok Kegiatan Layanan Profesional (KKLP) Perkamusan dan Peristilahan. “Selain menjadi editor KBBI, saya juga menyusun kamus bahasa daerah dan menginventarisasi kosakata unik bahasa Gorontalo,” tuturnya. Meski awalnya merasa kesulitan karena lebih banyak bersinggungan dengan kaidah bahasa Indonesia dan bahasa daerah, Ulfah terus belajar dan beradaptasi. “Ilmu linguistik umum, morfologi, dan semantik yang saya dapat di Sastra Arab sangat membantu,” ungkapnya. Memilih Tantangan Baru Keputusan Ulfah memilih Gorontalo bukan tanpa pertimbangan. “Saya ingin menjelajahi pengalaman baru dari segi adat, budaya, dan bahasa. Selain itu, lokasinya yang jauh dari Jawa sering dipandang sebelah mata, sehingga meningkatkan peluang saya,” jelasnya. Di luar tugas perkamusan, Ulfah juga dipercaya menjadi penguji bahasa Arab dalam pemilihan Duta Bahasa Provinsi Gorontalo. “Ketika ada peserta yang ingin menunjukkan kemampuan bahasa Arab, tim panitia mempercayakan tes tersebut kepada saya,” tambahnya. Kepada mahasiswa yang tertarik bekerja di Badan Bahasa, Ulfah menekankan pentingnya keterampilan sosial. “Harus banyak berlatih bersosialisasi, berbicara di depan publik, mendalami bidang bahasa sesuai minat, dan meningkatkan kemampuan bahasa asing,” pesannya. Cerita Ulfah membuktikan bahwa latar belakang Sastra Arab bisa menjadi modal berharga untuk berkarier di bidang bahasa, bahkan hingga ke luar Pulau Jawa. [adm]
Kuliah di Sastra Arab, Dalang Muda Ki Zaki Nugrah Ingin Lanjutkan Jejak Dakwah Sunan Kalijaga
Bagi sebagian orang, wayang hanya dilihat sebagai seni pertunjukan. Namun tidak bagi Zaki Nugrah Maulana Syarif (18), mahasiswa Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) yang akrab dipanggil Ki Zaki. Mengikuti jejak Sunan Kalijaga, dalang muda ini melihat wayang sebagai media dakwah yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman. Kisah Zaki dengan dunia pewayangan dimulai dari sang nenek. “Dari kecil saya dikenalkan wayang oleh almarhum nenek, meski sebelumnya tak ada keturunan seniman apalagi dalang,” kenangnya. Kecintaannya pada wayang membuat bocah tiga tahun ini rela menempuh jarak jauh hanya untuk menonton pertunjukan. “Melihat antusiasme saya, orang tua akhirnya memasukkan saya ke sanggar,” ujar pemuda asal Pucang, Bawang, Banjarnegara ini. Setahun berlatih, Zaki mencatatkan namanya sebagai dalang termuda dalam acara pentas apresiasi talenta bocah dari dinas. Dakwah Melalui Wayang Konsistensi Zaki dalam dunia pewayangan membuahkan hasil. Saat kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, ia memberanikan diri mengikuti lomba dalang dan meraih juara 4. Prestasi ini menjadi awal dari sederet pencapaiannya, termasuk juara 2 lomba dalang tingkat Nasional tahun 2019. “Tahun 2024 saja sudah pentas sekitar 10 kali, bahkan beberapa tawaran harus saya tolak karena kuliah,” ungkap dalang yang baru-baru ini tampil di Pendopo Banjarnegara dalam rangka Hari Wayang Nasional. Pilihan Zaki melanjutkan studi ke Sastra Arab UNS bukan tanpa alasan. “Saya ingin seperti Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media dakwah,” ujarnya. Dukungan orang tua memperkuat tekadnya. “Ibunda berpesan agar menjadikan dalang sebagai hobi yang dibayar, bukan profesi utama. Sementara ayah mendukung saya untuk berdakwah seperti Sunan Kalijaga,” jelasnya. Kreativitas Zaki dalam memadukan ilmu di bangku kuliah dengan seni pewayangan sudah terlihat. Dalam lomba Story Telling di Korwil Banyumas, ia berhasil meraih juara 1 tingkat karesidenan dengan menampilkan suluk berbahasa Arab. Menjaga Warisan Budaya Baru-baru ini, Zaki bersama dua dalang remaja lainnya, Ki Tedi dan Ki Ikhsan, menampilkan lakon Babad Wana Marta di Pendopo Banjarnegara. Lakon yang menceritakan berdirinya negara Amarta oleh Pandawa Lima ini sarat dengan nilai-nilai filosofis seperti kesungguhan, tekad, dan perjuangan kebaikan melawan kejahatan. “Alhamdulillah, senang sekali bisa dapat pengalaman baru,” ujar Zaki yang mengaku baru pertama kali tampil di Pendopo Banjarnegara meski sudah sering pentas di luar provinsi, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tengah studinya di Sastra Arab UNS, Zaki tetap berkomitmen melestarikan warisan budaya sekaligus menjadikannya media dakwah yang efektif, mengikuti jejak Sunan Kalijaga yang dia idolakan. [adm]
Jadi Tenaga Ahli, Lulusan Sastra Arab UNS Gawangi Media Center Kementerian ATR/BPN
Latar belakang pendidikan bukan penghalang untuk berkarier di bidang kehumasan pemerintah. Hal ini dibuktikan oleh Dedy Darmawan Nasution, alumnus Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2012 yang kini menjabat sebagai Konsultan Perorangan Media Center di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Sebelum bergabung dengan ATR/BPN, Dedy mengawali kariernya sebagai reporter ekonomi di Harian Republika selama lima tahun. “Saya banyak menangani isu-isu ekonomi, termasuk pernah meliput terkait pertanahan dan tata ruang,” kenangnya. Awal 2024, ia mengikuti seleksi Konsultan Perorangan Media Center ATR/BPN. “Dari delapan kandidat, saya beruntung bisa lolos seleksi,” ujar pria yang kini berdomisili di Bogor ini. Posisi ini, yang sebelumnya dikenal sebagai Tenaga Ahli, merupakan jalur rekrutmen mandiri untuk profesional tanpa melalui proses CPNS. Menariknya, ilmu yang ia dapat di Sastra Arab ternyata sangat mendukung pekerjaannya. “Mata kuliah seperti Jurnalistik, Kebudayaan Timur Tengah, Etika Diplomasi, hingga Kajian Lintas Budaya memberikan wawasan yang bisa diaplikasikan dalam dunia kehumasan,” jelasnya. “Saya ingin menegaskan bahwa lulusan Sastra juga bisa berkarier di berbagai bidang,” ujarnya saat berbagi pengalaman. Tantangan dan Adaptasi Sebagai Konsultan Media Center, Dedy bertanggung jawab menjaga relasi dengan para jurnalis dan menangani krisis komunikasi. “Sangat menantang dan memberikan banyak pelajaran baru. Dulu saya yang dilayani humas, sekarang saya yang melayani wartawan,” ujarnya. Beralih dari swasta ke instansi pemerintah juga membawa tantangan tersendiri. “Dengan iklim dan budaya kerja yang berbeda, kita dituntut untuk cepat beradaptasi dan mampu mengimbangi situasi sosial,” tambahnya. Kepada mahasiswa Sastra Arab, Dedy memberikan empat kunci sukses. “Pertama, kuasai bahasa asing sebaik mungkin. Kedua, petik intisari dari setiap pelajaran. Ketiga, aktif berorganisasi dan belajar memimpin. Keempat, rajin menulis dan ikuti lomba,” pesannya. “Apapun yang kita pelajari di bangku kuliah bisa menjadi bekal berharga saat terjun ke dunia kerja,” tutup Dedy, membuktikan bahwa pendidikan sastra bisa menjadi fondasi untuk berbagai pilihan karier. [adm]
Sastra Arab UNS Raih Status Akreditasi Unggul
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil meraih status Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Status ini tertuang dalam Surat Keputusan tertanggal 12 November 2024 dan berlaku hingga 30 September 2025. Akreditasi Unggul ini merupakan hasil konversi dari status akreditasi sebelumnya yang telah mencapai peringkat A. “Pencapaian ini adalah buah kerja keras seluruh civitas akademika Sastra Arab UNS,” ungkap Dr. Reza Sukma Nugraha, M.Hum., Ketua Program Studi Sastra Arab UNS. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan hasil konversi ini,” tambahnya. Reza berharap dengan status baru ini, Program Studi Sastra Arab bisa terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Status Akreditasi Unggul merupakan pengakuan tertinggi yang diberikan BAN-PT terhadap mutu pendidikan suatu program studi. [adm]
Bahasa Arab vs AI: Dosen Sastra Arab UNS Paparkan Batas Kemampuan Mesin Penerjemah
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Meski teknologi penerjemahan terus berkembang, kecerdasan buatan (AI) masih memiliki keterbatasan dalam menerjemahkan bahasa Arab. “Mesin penerjemah otomatis umumnya baru berada di survival level, sementara pemahaman bahasa butuh lebih dari sekadar terjemahan kata per kata,” ungkap Abdul Malik, S.S., M.Hum., dosen Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam Diklat Nasional Mata Pelajaran Bahasa Arab, Kamis (14/11/2024). Di hadapan lebih dari 170 guru dari berbagai kota di Indonesia, Malik menjelaskan bahwa mesin tidak mampu memahami konteks budaya dalam bahasa. “Kata ‘هتف’ bisa berarti ‘berbisik’ dalam kultur Sudan atau ‘menelepon’ dalam kultur Mesir. Relevansi seperti ini berada di luar algoritma mesin,” paparnya. Malik juga mencontohkan bagaimana istilah-istilah bermuatan budaya tidak bisa diterjemahkan secara leksikal. “Butuh pemahaman mendalam untuk menerjemahkan konsep seperti ‘tumpang sari’ ke dalam bahasa Arab. Mesin tidak bisa memberikan deskripsi yang tepat untuk hal-hal semacam ini,” jelasnya. Keunggulan Penerjemah Manusia “Orang yang memiliki kemampuan bahasa asing pada analytical level cenderung mampu memahami budaya di balik bahasa,” jelas Malik. Ia menekankan bahwa kemampuan ini memberi keunggulan signifikan dibanding mesin penerjemah. Mengutip berbagai penelitian, Malik menunjukkan manfaat lain dari kemampuan dwibahasa. “Penelitian dari Universitas New York, Northwestern, dan York Toronto membuktikan bahwa kemampuan bilingual memperkuat daya ingat, kreativitas, dan kemampuan multitasking,” tuturnya. “Bahkan dari sisi kesehatan, kemampuan dwibahasa terbukti dapat memperlambat penyakit neurologis seperti demensia dan alzheimer. Ini adalah keunggulan yang tidak bisa digantikan teknologi,” tambahnya. Diklat 38 jam pelajaran yang berlangsung hingga 17 November ini diharapkan dapat membantu guru mengembangkan metode pengajaran yang mengoptimalkan kemampuan manusia dalam memahami bahasa Arab secara mendalam, melampaui kemampuan mesin penerjemah. [adm]
Tiga Dekade Mengabdi, Dosen Sastra Arab UNS Raih Satyalancana Karya Satya
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Setelah 30 tahun mengabdikan diri sebagai abdi negara, Dr. Suryo Ediyono, M.Hum., dosen Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS), menerima Penghargaan Satyalancana Karya Satya. Penghargaan diserahkan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. di Gedung Ki Hadjar Dewantara Tower UNS, Selasa (12/11/2025). “Waktu begitu cepat berlalu,” kenang pria asal Jepara ini saat menerima penghargaan. Suryo memulai kariernya di Universitas Hasanuddin Makassar sebelum akhirnya melanjutkan pengabdian di UNS. Saat ini, lulusan S1, S2, dan S3 Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjabat sebagai Ketua Komisi Senat Riset, Inovasi, dan Kerjasama Fakultas Ilmu Budaya UNS. Dalam kesehariannya, Suryo yang berdomisili di Yogyakarta menempuh perjalanan pulang-pergi ke Solo demi menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Keberadaan istrinya yang bekerja sebagai tenaga kependidikan di UGM turut mendukung aktivitasnya di dunia pendidikan. “Saya merasa bangga dan bersyukur atas kesempatan mengabdi selama ini,” ujar dosen pengampu mata kuliah kebudayaan dan filsafat ini. Kepada dosen-dosen muda, Suryo memberikan pesan bermakna. “Manfaatkan kesempatan yang ada untuk maju dan sukses selagi terbuka. Lakukan hal-hal positif yang bermanfaat,” pesannya. Satyalancana Karya Satya adalah tanda kehormatan yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, kedisiplinan, dan prestasi kerja dalam melaksanakan tugasnya. [adm]
Merawat Manuskrip Nusantara Bersama Pustakawan Perpusnas Alumni Sastra Arab UNS
Ketika sebagian orang menganggap naskah kuno hanya tumpukan kertas usang, Fatkhu Rohmatin justru melihatnya sebagai jendela masa lalu yang berharga. Di ruang kerjanya di Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), alumni Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) asal Ngawi ini menekuni lebih dari ribuan naskah kuno, mengungkap rahasia-rahasia yang tersimpan dalam aksara dan bahasa masa lampau. Perjalanan Fatkhu ke dunia pernaskahan berawal dari pengalaman magangnya di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI) semasa kuliah. “Ketertarikan ini yang akhirnya memantik saya mengikuti tes CPNS Perpusnas tahun 2018,” kenang alumni angkatan 2012 ini. Berkat latar belakang sastranya, ia ditempatkan di Kelompok Substansi Pengelolaan Naskah Nusantara. Lebih dari Sekadar Pustakawan “Menjadi pustakawan ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, sekadar duduk-duduk dan menata koleksi,” ungkapnya. Di Perpusnas, Fatkhu menjalankan peran ganda: sebagai filolog, penerjemah, editor jurnal, peneliti, hingga pembicara di forum internasional. Bersama tim yang terdiri atas berbagai latar belakang sastra seperti Bali, Batak, Bugis, Belanda, dan Jawa, ia melayani peminjaman naskah kuno, membimbing peneliti, dan mengalihaksarakan naskah agar bisa dinikmati masyarakat luas. Membawa Khazanah Nusantara hingga Qatar dan Arab Saudi Keahliannya dalam bahasa Arab membuka beragam kesempatan berharga. Fatkhu dipercaya membawa manuskrip nusantara hingga ke Qatar dan Arab Saudi. “Ini kesempatan luar biasa untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki tradisi keilmuan yang kaya,” tuturnya. Ia juga berkolaborasi dengan pakar internasional. “Saya berkesempatan berkenalan dan bertukar ilmu dengan reviewer Jumantara dari British Library, University of Hawaii, SOAS University, hingga Universitas Cologne,” ceritanya antusias. Ilmu dari Sastra Arab UNS menjadi modal berharga bagi Fatkhu. “Mata kuliah penerjemahan dan gramatika Arab sangat membantu dalam alih aksara dan alih bahasa naskah kuno. Begitu juga dengan mata kuliah filologi dan kajian sastra,” jelasnya. “Kemampuan bahasa Inggris dan pengetahuan budaya Timur Tengah juga krusial, terutama saat pameran di luar negeri. Pustakawan dengan spesialisasi naskah Arab sering diikutkan dalam pameran di wilayah Timur Tengah,” tambahnya. Pesan untuk Mahasiswa Sastra Arab “Amazing. Saya senang bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan keilmuan dan passion saya,” ungkap Fatkhu. Kepada calon pustakawan muda, ia berpesan, “Biasakan membaca Arab gundul, Arab pegon, Arab Jawi, dan turunan aksara Arab lainnya yang ada di Nusantara. Jangan jenuh membaca dan menerka.” Di tangan putri Ngawi ini, naskah-naskah kuno tidak lagi menjadi artefak yang terlupakan. Setiap lembar yang ia tekuni adalah kisah yang siap dibagikan kepada dunia, membuktikan bahwa warisan intelektual nusantara layak mendapat tempat di panggung internasional. [adm]