Di ruang kerjanya yang dipenuhi kamus Arab berbagai edisi, Dr. Muhammad Yunus Anis, M.A., dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS), menemukan sesuatu yang luput dari perhatian para linguis selama berabad-abad. Kata kerja dalam bahasa Arab, yang selama ini dipelajari hanya dari aspek morfologi (perubahan bentuk kata) ternyata menyimpan pola makna yang sistematis ketika dikategorikan berdasarkan komponen semantiknya. “Selama 13 abad, studi tentang kata kerja Arab berada di garis depan kajian gramatika. Namun, belum ada yang secara khusus mengategorikan verba berdasarkan makna tindakan, proses, dan keadaan dalam dua korpus kamus yang berbeda,” ujar Yunus, sapaan akrabnya, di kampus UNS, Surakarta. Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Dirasat: Human and Social Sciences Volume 52 tahun 2025 ini bukan sekadar analisis linguistik biasa. Yunus melakukan pembedahan mendalam terhadap dua kamus bergengsi: Al-Munawwir (Arab-Indonesia) dan kamus Duleim Masoud Al-Qahtani (Arab-Inggris), khusus untuk kata kerja yang diawali huruf ba’. Mengurai Kompleksitas Bahasa Arab Bayangkan mencoba memahami ribuan kata kerja dalam bahasa yang sistem penulisannya saja sudah berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Arab memiliki keunikan: dari tiga huruf akar, bisa lahir belasan bentuk kata kerja dengan makna yang bervariasi. Inilah yang disebut mujarrad (kata kerja dasar) dan mazīd (kata kerja turunan). Dengan metode analisis biner, yakni memberi tanda plus untuk kehadiran komponen makna dan minus untuk ketiadaannya, Yunus mengkategorikan 62 kata kerja mujarrad dan 95 kata kerja mazīd. Hasilnya: 77,89% kata kerja turunan adalah verba tindakan, 20% verba proses, dan 25,26% verba keadaan. “Verba tindakan mendominasi, sama seperti dalam bahasa Indonesia yang mencapai 51,3%. Ini menunjukkan kecenderungan universal dalam bahasa,” katanya. Dari Teori ke Praktik Riset ini bukan sekadar latihan akademis. Yunus melihat dampak langsungnya pada pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, yang selama ini cenderung fokus pada hafalan dan tata bahasa formal. “Mahasiswa sering kesulitan memahami kapan menggunakan kata kerja tertentu karena kamus hanya memberi padanan kata, tanpa menjelaskan apakah itu menggambarkan tindakan aktif, proses yang terjadi pada subjek, atau keadaan subjek,” ujarnya. Dengan kategorisasi semantik, pembelajaran bisa lebih kontekstual. Contohnya, kata ba’asa (berani) adalah verba keadaan yang menggambarkan kondisi mental, bukan tindakan fisik. Sementara bajja (membelah) jelas verba tindakan. Memahami perbedaan ini krusial dalam penerjemahan dan komunikasi lintas budaya. Validasi riset ini melibatkan Ali Mohammed Saleh Al-Hamzi, penutur asli bahasa Arab dari Yaman. “Kolaborasi dengan native speaker memastikan akurasi data, sekaligus membuka dialog keilmuan lintas negara,” tambah Yunus. Jembatan Pemahaman Antarperadaban Di era globalisasi, kemampuan berkomunikasi lintas bahasa dan budaya menjadi keniscayaan. Bahasa Arab, yang dituturkan lebih dari 400 juta orang di 25 negara, adalah salah satu dari enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Riset Yunus memberikan kontribusi pada pengembangan kamus bilingual yang lebih komprehensif. “Kamus masa depan tidak cukup hanya memberi padanan kata. Harus ada informasi tentang kategori makna, sehingga pengguna tahu persis konteks penggunaannya,” katanya. Lebih jauh, penelitian ini membuka jalan bagi studi multidisipliner yang mengintegrasikan morfologi dan semantik, dua cabang linguistik yang selama ini cenderung terpisah dalam kajian bahasa Arab. Riset Berdampak untuk Pembangunan Berkelanjutan Yunus menyadari, riset linguistik sering dianggap terlalu teoretis dan jauh dari kehidupan nyata. Namun, ia meyakini bahwa pemahaman bahasa adalah fondasi dari hampir semua Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. “Pendidikan berkualitas (SDG 4) tidak mungkin terwujud tanpa materi pembelajaran bahasa yang sistematis dan mudah dipahami,” ujarnya. “Ketika mahasiswa memahami struktur dan makna bahasa Arab dengan baik, mereka bisa mengakses literatur Arab klasik dan kontemporer yang kaya, mulai filsafat hingga sains.” Lebih luas lagi, pemahaman bahasa yang mendalam mendukung kemitraan global (SDG 17). “Indonesia punya hubungan strategis dengan negara-negara Arab, baik dalam diplomasi, perdagangan, maupun pertukaran budaya. Penguasaan bahasa Arab yang tidak sekadar hafalan, tapi pemahaman mendalam, akan menghasilkan penerjemah, diplomat, dan akademisi yang lebih kompeten,” tegasnya. Riset ini juga sejalan dengan SDG 9 tentang inovasi, karena menghadirkan pendekatan baru dalam analisis linguistik. Metodologi analisis biner yang diterapkan Yunus bisa diadaptasi untuk bahasa-bahasa lain, membuka peluang pengembangan teknologi pemrosesan bahasa alami (natural language processing) untuk bahasa Arab. Agenda ke Depan Yunus tidak berhenti di huruf ba’. Rencananya, seluruh 28 huruf hijaiyah akan dikaji dengan metode serupa. “Bayangkan jika kita punya peta lengkap ribuan kata kerja Arab dengan kategorisasi semantik yang jelas. Itu akan merevolusi cara kita belajar dan mengajar bahasa Arab,” katanya dengan antusias. Ia juga berharap riset ini menginspirasi pengembangan aplikasi pembelajaran bahasa Arab berbasis artificial intelligence yang tidak hanya memberi terjemahan literal, tetapi juga konteks makna. “Bahasa adalah jendela peradaban. Dengan memahami struktur dan makna bahasa Arab secara mendalam, kita tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga memahami cara berpikir dan pandangan dunia satu miliar lebih umat Islam di seluruh dunia,” pungkasnya. Di tengah dinamika global yang menuntut dialog antarperadaban, riset seperti yang dilakukan Yunus Anis menjadi bukti bahwa ilmu linguistik bukan menara gading, melainkan jembatan pemahaman yang nyata dan sangat dibutuhkan. [adm] Riset ini didanai oleh Universitas Sebelas Maret melalui skema penelitian fundamental tahun 2023, dengan nomor kontrak 228/UN27.22/PT.01.03/2023.
Ketika Bahasa Arab di Instagram Jadi Peta Ideologi Islam
Riset dosen Sastra Arab UNS membongkar bagaimana pilihan kata dalam media sosial mencerminkan pertarungan pemikiran Islam di Indonesia. Sekilas, unggahan di Instagram @muslimorid dan @nuonline_id tampak serupa: keduanya berbagi konten keislaman dengan sisipan bahasa Arab. Namun, di balik teks-teks itu, tersembunyi peta ideologi yang berbeda. Yang satu menekankan bid’ah (bidah) dan shirk (syirik), yang lain membicarakan mu’ādalah (keadilan) dan muwāzanah (keseimbangan). Dr. Khabibi Muhammad Luthfi, dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, menemukan pola menarik ini setelah menganalisis 3.908 unggahan dan komentar di Instagram selama Februari hingga Juli 2025. Bersama tim risetnya, Reza Sukma Nugraha, Eva Farhah, dan Afnan Arummi, ia memetakan tujuh bentuk alih kode bahasa Indonesia-Arab yang digunakan komunitas Salafi dan Nahdlatul Ulama (NU). “Alih kode bukan sekadar fenomena linguistik. Ini instrumen diskursif yang menanamkan ideologi dalam ruang digital,” ujar Khabibi, yang menyelesaikan doktoralnya di UIN Sunan Kalijaga pada 2018. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Language Teaching and Research Volume 17, Nomor 1, Tahun 2026, ini menggunakan pendekatan etnografi Spradley dan analisis wacana kritis Fairclough untuk membedah 366 unggahan yang mengandung alih kode Arab-Indonesia. Tujuh Wajah Alih Kode Temuan Khabibi merinci tujuh bentuk alih kode: peralihan segmen teks, peralihan tingkat klausa, peralihan frasa non-hibrid, peralihan frasa hibrid, penyisipan leksikal non-hibrid, penyisipan leksikal hibrid, dan penyisipan formulaik. Komunitas Salafi, yang diwakili akun @muslimorid dengan lebih dari 759.000 pengikut, cenderung menggunakan frasa hibrid (119 kasus) dan penyisipan formulaik (175 kasus). Mereka kerap menyematkan gelar seperti ustādh (ustadz) untuk penceramah modern dan akh (akh, saudara) untuk intelektual muda Muslim. Sebaliknya, NU melalui @nuonline_id yang memiliki lebih dari 1,4 juta pengikut, lebih dominan dalam peralihan frasa non-hibrid (141 kasus) dan penyisipan leksikal non-hibrid (174 kasus). Istilah-istilah fikih klasik seperti al-madhāhib al-arba’ah (empat mazhab Sunni) dan rujukan kepada ulama seperti al-Khaṭīb asy-Syirbīnī kerap muncul. “Pola ini mencerminkan perbedaan mendasar: Salafi menekankan identitas personal melalui rujukan langsung pada Al-Quran dan Hadis, sementara NU mengedepankan otoritas ulama klasik dan teks-teks fikih,” jelas Khabibi. Pertarungan Otoritas Keagamaan Yang mengejutkan, perbedaan alih kode ini ternyata memetakan pertarungan otoritas keagamaan di Indonesia. Komunitas Salafi konsisten mengutip langsung ayat Al-Quran dan Hadis dalam bahasa Arab, menempatkan teks suci sebagai sumber otoritas tertinggi yang dapat diakses langsung tanpa perantara. NU, sebaliknya, menempatkan Al-Quran dan Hadis dalam kerangka interpretasi ulama klasik. Kutipan dari kitab-kitab seperti al-Fatāwā al-fiqhiyyah al-kubrā karya Ibnu Hajar al-Haytami lebih sering muncul ketimbang ayat Al-Quran yang berdiri sendiri. “Ini bukan semata soal bahasa, tapi soal epistemologi: bagaimana pengetahuan agama diproduksi dan divalidasi,” kata Khabibi. Perbedaan strategi dakwah pun terlihat jelas. Akun Salafi cenderung direktif, menggunakan bahasa yang menegur atau memperingatkan, dengan komentar yang minim dan searah. Sebaliknya, akun NU lebih dialogis, dengan admin yang sesekali membalas komentar pengikut untuk memberi klarifikasi atau penegasan. Dari Stigma hingga Solusi Riset ini berangkat dari keresahan Khabibi terhadap stigma yang melekat pada penggunaan bahasa Arab di Indonesia. Pada 2021, intelijen negara sempat mengaitkan penggunaan bahasa Arab dengan indikasi terorisme, memicu protes akademisi Muslim. “Generalisasi semacam ini berbahaya. Riset kami menunjukkan bahwa alih kode Arab-Indonesia adalah praktik normal dalam komunitas Islam digital, bukan penanda radikalisme,” tegasnya. Temuan ini membuka peluang praktis. Khabibi menyarankan kurikulum bahasa Arab di Indonesia perlu merespons realitas alih kode ideologis ini. Untuk komunitas Salafi yang menggunakan peralihan frasa hibrid dengan rujukan skriptural langsung, kurikulum bisa membangun kemampuan kosakata Arab-Indonesia secara bertahap—dari kata parsial hingga wacana utuh—untuk meningkatkan kemampuan membaca teks Arab. Sebaliknya, penyisipan leksikal non-hibrid NU yang terkait dengan istilah fikih dan ulama klasik memungkinkan pedagogi yang responsif secara kultural dalam tradisi pesantren, meningkatkan pemahaman dan komunikasi lisan melalui pendekatan multibahasa yang dialogis. “Platform digital seperti Instagram bisa dimanfaatkan untuk modul pembelajaran berbicara secara daring, mendorong mahasiswa mengekspresikan narasi keagamaan sekaligus mengembangkan fleksibilitas interpretatif,” ujar Khabibi. Relevansi Global Riset Khabibi dan timnya punya implikasi besar dalam memotret fenomena alih kode secara global. “Ini berkontribusi pada studi wacana multibahasa global, pedagogi bahasa Arab, dan strategi dakwah Islam inklusif di ruang digital,” katanya. Yang tak kalah penting, penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, dan SDG 16 tentang perdamaian dan keadilan. “Dengan memahami bagaimana alih kode mencerminkan ideologi, kita bisa mengembangkan komunikasi Islam digital yang lebih inklusif, mengurangi prasangka antarkelompok, dan mempromosikan literasi bahasa yang sensitif terhadap keragaman pemikiran,” pungkas Khabibi. Risetnya membuktikan bahwa di era digital, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah medan pertarungan makna, identitas, dan kekuasaan yang bisa dipetakan, dipahami, dan diarahkan menuju dialog yang lebih konstruktif. [adm] Penelitian ini didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret melalui kontrak nomor 371/UN27.22/PT.01.03/2025.
Prodi Sastra Arab UNS Tempati Posisi Kedua Nasional dalam Kinerja Publikasi Ilmiah
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih peringkat kedua nasional untuk kinerja penelitian dan publikasi ilmiah. Pencapaian ini didasarkan pada skor SINTA 3 Tahun (SINTA Score 3 Years) yang dirilis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Data yang diambil per 2 Januari 2026 dari laman resmi SINTA menunjukkan produktivitas civitas akademika Sastra Arab UNS dalam menghasilkan karya ilmiah berkualitas mengalami peningkatan signifikan. SINTA Score 3Y merupakan metrik pengukuran kinerja publikasi ilmiah peneliti yang dihitung berdasarkan aktivitas dan pencapaian ilmiah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen para dosen Sastra Arab UNS dalam meningkatkan produktivitas riset melalui berbagai upaya sistematis. Kolaborasi antarpeneliti dan orientasi riset yang berdampak pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG’s) menjadi strategi utama yang ditempuh program studi. Pencapaian peringkat kedua nasional ini sekaligus menegaskan posisi Sastra Arab UNS sebagai salah satu pusat kajian dan riset bahasa Arab terdepan di Indonesia. Capaian tersebut diharapkan dapat memacu program studi sejenis untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan kontribusi keilmuan bagi pengembangan studi Arab di Tanah Air. Sistem SINTA sendiri merupakan portal resmi yang dikembangkan Kementerian Pendikbudristek untuk mengukur kinerja sains dan teknologi di Indonesia, termasuk produktivitas publikasi ilmiah perguruan tinggi dan peneliti. [adm]
Bangkit dari Pusaran Sejarah, Teater OASE Hadirkan Dilema Perjuangan Lewat Drama QUM!
Lampu panggung meredup di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Kamis (5/12/2025) malam. Di atas pentas, dua pemuda berdiri berhadap-hadapan. Satu yakin diplomasi adalah jalan, yang lain memegang teguh perlawanan bersenjata. Ketegangan masa pendudukan Jepang menyelimuti setiap dialog mereka. Begitulah Teater OASE Universitas Sebelas Maret (UNS) membuka pementasan besar ke-13 mereka, QUM!, sebuah seruan dalam bahasa Arab yang berarti “bangkitlah!”. Lebih dari sekadar pertunjukan, drama ini menjadi cermin bagi generasi muda untuk menatap kembali pergulatan moral para pendahulu bangsa. Dua Jalan, Satu Tujuan Andi dan Munir, dua tokoh sentral dalam QUM!, merepresentasikan dikotomi strategi perjuangan kemerdekaan. Andi menempuh jalan diplomasi—minim korban, penuh perhitungan. Munir memilih kekerasan sebagai respons atas kekerasan penjajah. “Ini bukan soal siapa yang benar,” ujar Prasidya Fajar Ramdhani, sutradara QUM!, usai pementasan. “Ini tentang bagaimana sejarah memaksa manusia membuat pilihan dalam situasi yang tak ada yang mudah.” Konflik kedua tokoh memuncak ketika sebuah tragedi mengguncang tatanan rapuh masyarakat di bawah pendudukan. Penonton dihadapkan pada pertanyaan: strategi mana yang lebih tepat ketika kemanusiaan dipertaruhkan? Karya Kolektif 74 Mahasiswa Pementasan yang berlangsung selama hampir dua jam ini melibatkan 6 aktor, 52 kru pemanggungan, dan 22 kru produksi. Seluruhnya adalah mahasiswa Sastra Arab UNS lintas peminatan. M. Ali Mukti, pemimpin produksi, mengaku proses kreatif dimulai sejak pertengahan tahun dengan riset mendalam tentang periode pendudukan Jepang. “Kami tidak ingin sekadar menghadirkan drama sejarah. Kami ingin penonton merasakan dilema yang dialami para pejuang,” kata Ali. Riset mencakup kajian literatur sejarah, wawancara dengan akademisi, hingga eksplorasi arsip visual untuk memastikan akurasi konteks sosial-politik. Hasilnya, panggung yang disulap menjadi ruang interogasi, markas perlawanan, hingga lorong-lorong gelap masa pendudukan. Teater sebagai Media Pembelajaran Sejarah Sejak berdiri pada 2014, Teater OASE konsisten mengangkat tema-tema yang menyentuh kesadaran kolektif. QUM! melanjutkan tradisi itu dengan pendekatan yang lebih ambisius, yakni menjadikan teater sebagai ruang pembelajaran historis yang emosional. “Buku sejarah memberi fakta, tapi teater memberi pengalaman,” kata Prasidya. “Penonton tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi merasakan tekanan yang dirasakan tokoh-tokoh itu.” Seruan untuk Generasi Kini Judul QUM! bukan sekadar panggilan untuk bangkit dari penjajahan fisik, tapi juga kebangkitan kesadaran. Di tengah era di mana sejarah kerap disederhanakan dalam narasi digital, Teater OASE mengingatkan pentingnya memahami kompleksitas peristiwa masa lalu. “Kami berharap penonton membawa pulang satu pertanyaan: apa artinya bangkit di zaman sekarang?” kata Ali Mukti menutup perbincangan. Panggung gelap kembali. Tapi pertanyaan itu terus bergema, jauh setelah tirai ditutup. [adm]
Ajak Siswa Mengenal Tokoh Islam, Mahasiswa Sastra Arab UNS Adakan Storytelling Imersif
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Sebanyak 160 siswa mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah tokoh Arab, Ibnu Batutah, melalui metode interaktif dan imersif di Pondok Qur’an Alima, Minggu (7/12/2025). Kegiatan bertajuk Amazing Heroes ini merupakan kolaborasi Pondok Qur’an Alima dengan mahasiswa Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam tim Hibah Jarpak ID 1574 UNS. Acara yang berlangsung selama sehari penuh itu mengangkat tema “Ibnu Batutah Sang Penjelajah”. Kegiatan dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar sejarah Arab yang inovatif, menyenangkan, dan ramah anak. Ketua Tim Hibah Jarpak ID 1574 UNS, Najwa Haura, menjelaskan, kegiatan ini menampilkan dua bentuk pembelajaran utama. Pertama, pameran interaktif yang terdiri dari empat display , yakni guestboard, flip-card, board kisah perjalanan Ibnu Batutah, dan peta eksploratif yang disertai beberapa miniatur bangunan ikonik negara-negara Timur Tengah. Kedua, storytelling imersif yang dibawakan pendongeng nasional dengan visualisasi perjalanan tokoh penjelajah muslim tersebut. “Kami ingin anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan pengalaman menjelajah seperti Ibnu Batutah. Makanya kami hadirkan metode yang imersif dan interaktif,” ujar Najwa. Antusiasme peserta, yang mayoritas anak-anak, terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Mereka aktif berpartisipasi dalam setiap sesi, mulai dari mengisi guestboard hingga menyimak storytelling yang dikemas secara menarik. Tim Hibah Jarpak ID 1574 UNS beranggotakan enam mahasiswa, yaitu Najwa Haura, Nabila Sifa, Nur Alfiyanti, Sabrina Salsabila, Zahra Amalia, dan Alif Rabbani. Kegiatan ini didanai UNS melalui program Hibah Pembelajaran Berdampak (Jarpak) 2025. Program Jarpak merupakan skema pendanaan yang diberikan UNS untuk mendorong mahasiswa mengembangkan inovasi pembelajaran yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Inovasi pada acara Amazing Heroes menjadi salah satu bukti komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan pembelajaran berkualitas di luar kampus. [adm]
Jadi Wartawan Kompas, Alumni Sastra Arab UNS: Menulis Berita dengan Rasa di Era Algoritma
Ruang redaksi Kompas.com menjadi saksi bagaimana Alinda Hardiantoro, alumnus Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2017, menjalani hari-harinya sebagai reporter. Setiap pagi, ia berhadapan dengan rentetan isu yang harus dibedah: politik, ekonomi, hukum, kesehatan, lifestyle, hingga konflik internasional. Di tangannya, berita-berita itu diolah menjadi narasi yang runtut, berimbang, dan yang terpenting: terverifikasi. “Bekerja sebagai wartawan campur aduk banget rasanya,” ujar perempuan yang kini bertugas di PT Kompas Cyber Media sejak Februari 2022 itu. Excited, senang, lelah, semuanya bercampur dalam ritme kerja yang menuntut disiplin tinggi dan kemampuan update informasi secara cepat di era media sosial. Jejak Awal: Perpustakaan dan Buku Andy Noya Benih kecintaan Alinda pada menulis dan jurnalisme ditanam sejak masa kanak-kanak. Akses ke perpustakaan SD yang lengkap membuka dunianya pada bacaan. Kebiasaan membaca itu terus dipupuk hingga ia aktif di ekstrakurikuler jurnalistik semasa SMP dan SMK. Titik balik terjadi saat magang di PT Garudafood Putra-Putri Jaya, Gresik, menjelang lulus SMK. Di sana, Alinda membaca buku karya Andy Noya yang memperkenalkannya pada profesi wartawan, pekerjaan yang membutuhkan disiplin sekaligus minat tinggi pada membaca dan menulis. “Sepertinya, sejak saat itu mulai bercita-cita jadi wartawan,” kenangnya. Namun, jalan menuju cita-cita itu tidak langsung lurus. Saat kuliah di Sastra Arab UNS, Alinda terlambat mendaftar Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Ia kemudian bergabung dengan Kalpadruma FIB dan mengambil mata kuliah jurnalistik meski tidak wajib. Bahkan, di semester lima, ia memilih magang di Kementerian Luar Negeri ketimbang media. “Kapan lagi bisa magang di sana, kan?” ujarnya. Menemukan Passion Bersama Eka Kurniawan Sebuah seminar tentang passion bersama sastrawan Eka Kurniawan menjadi momen pencerahan bagi Alinda. Pernyataan Eka menggema dalam ingatannya, “Kalau kamu suka bahkan cinta pada sesuatu, kamu tak akan bingung memulainya.” Kata-kata itu membuat Alinda mengingat kembali kesenangannya membaca dan menulis. “Saya pikir, saya sudah menemukan passion saya, menulis,” katanya. Di sela-sela mengerjakan skripsi, Alinda mulai aktif menulis di blog dan magang sebagai jurnalis di Humas UNS. Langkah-langkah itu bukan hanya untuk menyalurkan minat, tapi juga mengumpulkan portofolio. Masuk Kompas.com: Verifikasi dan Ketelitian Akhir 2021, Alinda menemukan lowongan reporter di Kompas.com melalui Kalibrr. Ia mendaftar dengan portofolio tulisan dari masa magang di Humas UNS dan tulisan evergreen dari tempat kerja sebelumnya.Proses seleksi berlangsung ketat, interview bersama HR dan user, dilanjutkan tes tertulis yang meliputi penulisan berita dan rencana liputan. Sekitar Januari 2022, kabar baik tiba. Alinda dinyatakan lolos dan mulai bekerja Februari 2022. Sebagai reporter di kanal Tren yang dikenal sebagai kanal “palugada” atau apa saja ada, job desc Alinda tidak sekadar menulis. Ia harus mencari topik berita, menentukan narasumber yang tepat, melakukan wawancara, riset data, mengolah hasil wawancara, baru kemudian menulis berita. Bahasa Arab sebagai Senjata Latar belakang Sastra Arab ternyata menjadi aset berharga dalam pekerjaan Alinda, terutama saat meliput berita-berita Timur Tengah seperti konflik Hamas versus Israel di Gaza. “Kemampuan bahasa Arab sangat dibutuhkan. Saya dituntut mencari sumber yang kredibel dan berimbang sebelum diolah menjadi tulisan berita,” ungkapnya. Penerjemahan dari bahasa Arab ke Indonesia yang tepat menjadi krusial mengingat isu-isu konflik sangat sensitif dan rawan misleading. Di Kompas.com, Alinda bukan satu-satunya lulusan Sastra Arab. Editornya kebetulan juga alumnus Sastra Arab UGM. Namun, lulusan Sastra Arab di redaksi itu bisa dihitung dengan jari. Tantangan di Era AI Di tengah dinamika pekerjaan yang menyenangkan seperti atmosfer kerja tanpa senioritas, kesempatan bertemu tokoh-tokoh inspiratif, dan jaringan yang terus meluas, Alinda menghadapi tantangan baru: penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam penulisan berita. “Sekarang orang-orang kalau menulis sudah bisa pakai AI. Lebih cepat, tinggal masukin prompt, naskah berita sudah jadi,” katanya. Beberapa waktu lalu, sempat viral berita yang ketahuan ditulis pakai AI tapi lupa tidak diedit. Ia mengingat sebuah insiden yang sempat ramai diperbincangkan di kalangan jurnalis. “Beberapa waktu yang lalu sempat viral berita yang ketahuan ditulis pakai AI tapi lupa enggak diedit,” ujar Alinda. Kasus itu menjadi peringatan keras bagi industri media bahwa kemudahan teknologi bisa menjadi jebakan jika mengorbankan kualitas dan kredibilitas. Kejadian tersebut memperkuat keyakinan Alinda untuk tidak sekadar mengejar kecepatan. Menghadapi tantangan ini, ia memiliki cara yang berbeda. “Saya cuma bisa menghadapi tantangan ini dengan mencoba menulis menggunakan rasa dan menghadirkan apa yang tidak dilihat pembaca melalui tulisan saya.” Prinsip inilah yang membedakan produk jurnalis dengan konten kreator: verifikasi dan konfirmasi. Ketelitian dalam mencari sumber, keberanian mengonfirmasi langsung kepada narasumber, dan kemampuan menghadirkan sudut pandang yang lebih dalam tidak bisa digantikan algoritma. Pesan untuk Adik Tingkat Bagi mahasiswa yang berminat terjun ke dunia jurnalistik, Alinda punya pesan sederhana: mulailah menulis. “Meski sekarang produk video lebih dinikmati, tapi menulis tetap jadi modal utama. Kalau tulisan bagus, mau diolah jadi produk video atau apa pun, hasilnya juga bagus dan mudah dimengerti audiens,” tuturnya. Ia menyarankan untuk menulis apa saja yang dilihat setiap hari. Jika ada keresahan, tulislah. Setelah itu, cobalah untuk mengonfirmasi dan memverifikasi, bertanya kepada orang yang mengalami, atau dosen dan pakar yang memahami isu tersebut. Hasil tulisan atau video bisa diunggah di blog, media sosial, atau dikirim ke kantor media. “Ada banyak sekali platform yang bisa digunakan untuk mengumpulkan portofolio sebagai penunjang mencari pekerjaan setelah lulus dari perkuliahan,” katanya. Di ruang redaksi yang sibuk, Alinda terus mengasah kemampuannya menulis dengan rasa. Setiap berita yang ia olah adalah bukti bahwa passion yang ditemukan sejak kecil, yakni membaca dan menulis, kini menjadi jalan hidup yang ia jalani dengan penuh keyakinan. Seperti kata Eka Kurniawan yang ia ingat: jika kamu cinta pada sesuatu, kamu tak akan bingung memulainya. [adm]
Mahasiswa Sastra Arab UNS Gelar Webinar Cara Kreatif Jaga Hafalan Al-Qur’an
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan webinar bertajuk “Kajian Inspiratif: Cara Kreatif Menjaga Hafalan Al-Qur’an” pada Sabtu (22/11/2025) malam. Kegiatan daring melalui Zoom Meeting yang dimulai pukul 19.45 WIB itu merespons keluhan generasi muda tentang sulitnya menjaga konsistensi hafalan di tengah kesibukan akademik dan pekerjaan. Aminu Khidhir, mahasiswa Sastra Arab UNS sekaligus hafidz, hadir sebagai narasumber. Dalam paparannya, ia membedah tantangan yang kerap dihadapi para penghafal Al-Qur’an. “Menjaga hafalan bukanlah beban, melainkan kebutuhan jiwa,” ujarnya. Aminu membagikan strategi muraja’ah (pengulangan hafalan) yang efektif, tips mengatasi kejenuhan, hingga motivasi membangun kembali semangat. Diskusi berlangsung interaktif, memberi peserta wawasan baru untuk menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan penghafal Al-Qur’an. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi tim mahasiswa beranggotakan Ahmad Juhdan Abu Bakr, Aminu Khidir, Julianto, dan Muzzayin Haris. Tim dibimbing Dr Muhammad Farkhan Mujahidin, M.Ag. “Kami berharap memberikan manfaat nyata, bukan hanya teori menghafal, tetapi juga mempererat ukhuwah antar-sobat Qur’ani,” kata tim penyelenggara. Melalui forum tersebut, peserta diharapkan memiliki strategi lebih matang untuk istiqomah menjaga kalamullah di era modern yang penuh distraksi. [adm]
Dialogakopi: Saat Mahasiswa Sastra Arab Sulap Kopi Jadi Ruang Literasi
Lima mahasiswa Sastra Arab UNS mengubah passion menjadi bisnis lewat warung kopi yang mengusung konsep slowbar dan sastra. Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) dari Direktorat Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa UNS memberi jalan bagi mereka mewujudkan Dialogakopi. Malam mulai turun di sekitar kawasan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Satu per satu lampu mulai menyala. Di sebuah bangunan yang menyerupai rumah tidak jauh dari kampus, aroma kopi tercium. Dialogakopi, warung kopi rintisan lima mahasiswa Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, angkatan 2024, baru saja membuka pintunya. Taqiuddin Zuhdi, ketua kelompok usaha ini, masih sibuk menyiapkan peralatan di balik konter. Pemuda asal Karanganyar itu bukan barista sembarangan. Pengalamannya di dunia kopi sudah terasah sejak lama, jauh sebelum ia memutuskan mewujudkan mimpi memiliki warung kopi sendiri. “Saya secara pribadi memiliki pengalaman di bidang kopi dan barista, dan hobi yang saya gemari semenjak kecil adalah berbisnis,” ujar Taqiuddin. Titik balik terjadi saat ia menghadiri sebuah seminar bisnis. Di sana, Taqiuddin mendapat pencerahan bahwa bisnis paling aman adalah yang dijalankan dengan konsep brick and mortar, bisnis dengan tempat fisik tetap sebagai sarana transaksi. “Dengan pengalaman dan skill yang saya miliki, saya memikirkan sebuah ide yaitu membangun sebuah warung kopi kecil dan menjadikannya impian atau target yang harus saya usahakan,” kenangnya. Pilihan jatuh pada bisnis kopi bukan tanpa alasan. Fenomena kafe sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup mahasiswa dan anak muda masa kini. “Tidak bisa dipungkiri bahwa kafe atau kopi sudah menjadi tren dan gaya hidup baru bagi anak-anak muda untuk sekadar nugas, nongkrong, diskusi,” kata Taqiuddin. Ia melihat peluang di tengah maraknya warung kopi yang bermunculan. Konsep Slowbar dan Sentuhan Sastra Namun, Dialogakopi tidak ingin sekadar menjadi warung kopi biasa. Dari namanya saja sudah tersirat konsep yang ingin diusung, yakni dialog. “Dialoga kopi berasal dari kata dialog. Kami membangun konsep slowbar dengan barista sebagai teman bincang,” jelas Taqiuddin. Di Dialogakopi, pelanggan tidak hanya membeli kopi, tetapi juga mendapat ruang untuk berbincang, merenung, bahkan berdiskusi dengan barista yang berperan lebih dari sekadar pembuat minuman. Sentuhan sastra pun tak luput dari perhatian. Latar belakang kelima anggota kelompok sebagai mahasiswa Sastra Arab memberi warna tersendiri. “Kami juga membawa konsep sastra dengan memberikan sentuhan kata pada cup coffee dan juga menyediakan buku sebagai sarana literasi,” tambah Taqiuddin. Ke depan, ambisi mereka tak berhenti di situ. Dialogakopi berencana merutinkan kegiatan bedah buku, ruang diskusi, bahkan ruang belajar bahasa, mulai dari bahasa Arab hingga bahasa isyarat. Visi ini sejalan dengan semangat literasi yang ingin mereka tanamkan di tengah komunitas mahasiswa. Yang tak kalah menarik, Dialogakopi memasang harga yang bersaing dan terjangkau bagi kantong mahasiswa. “Kami juga bersaing dengan harga pasar agar lebih mudah dijangkau oleh mahasiswa karena mereka adalah target pasar utama kami,” ujar Taqiuddin. Dari Hibah hingga Soft Opening Dialogakopi tidak lahir begitu saja. Kelima mahasiswa ini, Taqiuddin Zuhdi, Vitra Raffael Aqila, Ghaffari Nashwan, Alif Sumba, dan Pertiwi Mubarokah, mendapat angin segar dari kampus lewat program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) yang diselenggarakan Direktorat Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa (DAKM) UNS. Program WIBAWA bertujuan menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa sekaligus memberikan stimulus melalui hibah. “Alhamdulillah, kami mendapatkan support dari kampus. Saya merasakan memiliki privilege dari kampus yang mendukung penuh mahasiswanya untuk berwirausaha,” kata Taqiuddin dengan nada syukur. Dukungan kampus bukan hanya sekadar retorika. Hibah WIBAWA memberi mereka modal awal untuk mewujudkan impian. Sebelum membuka tempat fisik, mereka mengawali bisnis dengan berjualan di berbagai event dan sistem pre-order. Respons pasar cukup menggembirakan. Pada 12 November 2025, Dialogakopi akhirnya menggelar soft opening. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah bangunan menyerupai rumah, tidak jauh dari kampus, berlokasi di Jalan Berseri Nomor 3, Gulon, Jebres. “Kami berusaha mencari tempat yang dekat dengan kampus agar mudah dijangkau, dan kebetulan kami mendapatkan tempat seperti rumah yang menjadikannya lebih bernuansa kekeluargaan,” jelas Taqiuddin. Grand opening dijadwalkan pada 21 November 2025, tepat sembilan hari setelah soft opening. Waktu singkat itu digunakan untuk evaluasi dan penyempurnaan operasional. Membagi Peran, Menjaga Kuliah Menjalankan bisnis sambil kuliah bukanlah perkara mudah. Namun, kelima mahasiswa ini tampak punya strategi jitu. Mereka membagi tugas dengan rapi. Semua anggota berperan sebagai barista, namun masing-masing punya tanggung jawab tambahan. Ada yang jadi koordinator, penanggung jawab produksi dan bahan baku, pengatur tata tertib dan jadwal, serta manajer pemasaran dan iklan. “Kami membuka bisnis ini dengan operasional pada malam hari, dan juga sistem shift per hari sehingga kesannya menjadi pekerjaan paruh waktu atau part time dan sama sekali tidak mengganggu perkuliahan,” ujar Taqiuddin. Keputusan operasional malam hari adalah langkah cerdas. Siang hari mereka bisa fokus kuliah, sementara malam hari adalah waktu prime time mahasiswa mencari tempat nongkrong atau mengerjakan tugas. Sistem shift memastikan tidak ada yang terbebani dan semua bisa seimbang antara akademik dan bisnis. Orientasi Jangka Panjang Berbeda dengan kebanyakan bisnis mahasiswa yang berumur pendek, Dialogakopi punya visi jauh ke depan. “Orientasi kami memang tidak hanya terbatas dalam jangka waktu ketika kami menjadi mahasiswa. Kami bahkan berharap agar bisnis ini ke depannya bisa melakukan ekspansi entah dari segi tempat maupun cabang,” kata Taqiuddin dengan penuh keyakinan. Ambisi itu bukan sekadar mimpi kosong. Dengan fondasi yang kuat, konsep unik, target pasar jelas, dan dukungan kampus, Dialogakopi berpeluang tumbuh menjadi bisnis yang berkelanjutan. Taqiuddin juga punya pesan untuk mahasiswa lain. “Saat ini, mencari pekerjaan tidak mudah. Semoga kegiatan seperti ini menjadi motivasi yang kuat khususnya untuk mahasiswa untuk berani dan sukses pada langkahnya sendiri, yaitu berani berwirausaha,” katanya. Model Perguruan Tinggi Progresif Langkah UNS lewat DAKM dan program WIBAWA menunjukkan peran perguruan tinggi di era modern. Kampus tidak cukup hanya mengajarkan teori di kelas, tetapi harus aktif membuka jalan bagi mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif. Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada DAKM UNS yang telah memberi peluang. “Support hingga kami dapat memulai langkah kami untuk berwirausaha,” ujarnya. Program seperti WIBAWA juga menjawab tatangan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak hanya menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja. Dengan membekali mahasiswa sejak dini untuk berwirausaha, kampus turut menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih sehat. Malam semakin larut. Di Dialogakopi, beberapa pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang untuk mengerjakan tugas, ada yang sekadar ingin ngobrol santai sambil menikmati kopi. Taqiuddin dan
Dorong Partisipasi Mahasiswa, Sastra Arab FIB UNS Gelar Pembekalan Program Kreativitas Mahasiswa
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar sosialisasi dan pembekalan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Kamis (13/11/2025). Kegiatan yang berlangsung selama dua setengah jam di Ruang Seminar FIB itu menargetkan peningkatan partisipasi mahasiswa dalam ajang kompetisi riset dan kreativitas tingkat nasional. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIB UNS, Dr. Yusana Sasanti Dadtun, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan ilmiah. “Harapannya partisipasi mahasiswa FIB, terutama Sastra Arab, meningkat. Terima kasih Kaprodi yang sudah menyelenggarakan acara,” ujarnya saat membuka kegiatan pukul 13.30 WIB. Acara yang dimoderatori Ketua Program Studi Sastra Arab, Dr. Reza Sukma Nugraha, M.Hum., menghadirkan dua narasumber berpengalaman dalam pembimbingan PKM. Aan Andri Yano, S.Pt., M.Sc., dosen Sekolah Vokasi UNS yang juga pembina prestasi mahasiswa dan reviewer Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) UNS, menekankan komitmen penuh dalam persiapan proposal. “PKM menuntut mahasiswa menyiapkan diri secara 100%, tidak boleh setengah-setengah. Harus kerja sama antara mahasiswa, antaranggota, dan dosen pembimbing,” tegas Aan, menyoroti pentingnya sinergi dalam tim riset. Narasumber kedua, Dr. Muhammad Yunus Anis, S.S., M.A., dosen Sastra Arab yang juga reviewer PIM UNS, mengungkapkan optimisme terhadap potensi mahasiswa. “Harapannya tahun ini mahasiswa Sastra Arab ada yang diterima PKM Pendanaan. Mahasiswa bisa mengikuti berbagai skema sesuai passion-nya. Saya siap mendampingi dan memberikan konsultasi,” katanya. Antusiasme Mahasiswa Menggali Ide PKM Kegiatan yang diikuti mahasiswa angkatan 2023, 2024, dan 2025 itu berlangsung interaktif. Sejumlah peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar mekanisme pengajuan proposal dan strategi lolos seleksi. Tak sedikit yang mengaku telah memiliki gagasan kreatif untuk diajukan ke PIM UNS, saringan tingkat universitas sebelum maju ke PKM nasional. PKM merupakan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang memberikan kesempatan mahasiswa mengembangkan kreativitas dan inovasi melalui berbagai skema, mulai riset, pengabdian masyarakat, hingga kewirausahaan. PIM UNS menjadi gerbang seleksi awal bagi mahasiswa UNS sebelum berkompetisi di tingkat nasional. Melalui kegiatan ini, Program Studi Sastra Arab FIB UNS berupaya memfasilitasi mahasiswa dalam menyalurkan ide-ide kreatif sekaligus meningkatkan daya saing akademik di kancah nasional. Kesempatan konsultasi dan pendampingan langsung dari dosen pembimbing berpengalaman diharapkan mampu mendongkrak capaian prestasi mahasiswa di masa mendatang. [adm]
Sastra Arab UNS Raih Akreditasi Unggul dari BAN-PT 2025-2030
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) meraih akreditasi dengan peringkat Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pencapaian tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT Nomor 7777/SK/BAN-PT/Ak.Ppj/S/X/2025. Akreditasi Unggul ini berlaku selama lima tahun, terhitung mulai 1 Oktober 2025 hingga 1 Oktober 2030. Peringkat tertinggi dalam sistem akreditasi nasional ini menjadi pengakuan atas kualitas penyelenggaraan pendidikan program studi yang berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya UNS tersebut. Akreditasi ini diperoleh melalui mekanisme akreditasi automasi. Metode ini merupakan cara akreditasi ulang yang dilakukan secara otomatis tanpa memerlukan asesmen langsung oleh asesor. Proses evaluasi dilakukan dengan memantau dan mengevaluasi data serta informasi yang tersedia secara digital. Sistem akreditasi automasi mencerminkan transformasi digital dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Metode ini dinilai lebih efisien karena memanfaatkan basis data yang telah terintegrasi, sekaligus menunjukkan konsistensi kualitas program studi yang diakreditasi. Civitas akademika Sastra Arab UNS kini dapat mengunduh sertifikat akreditasi melalui laman resmi program studi. Dokumen tersebut menjadi bukti formal pengakuan kualitas yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan akademik dan administratif. Akreditasi Unggul diharapkan semakin memperkuat posisi Sastra Arab UNS dalam peta pendidikan bahasa dan sastra Arab di Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing lulusannya di tingkat nasional maupun regional. [adm]