CONTACT US

Edit Template

CONTACT US

Edit Template

Memetakan Kata Kerja Arab: Riset Linguistik yang Membuka Pemahaman Lintas Budaya

Di ruang kerjanya yang dipenuhi kamus Arab berbagai edisi, Dr. Muhammad Yunus Anis, M.A., dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS), menemukan sesuatu yang luput dari perhatian para linguis selama berabad-abad. Kata kerja dalam bahasa Arab, yang selama ini dipelajari hanya dari aspek morfologi (perubahan bentuk kata) ternyata menyimpan pola makna yang sistematis ketika dikategorikan berdasarkan komponen semantiknya.

“Selama 13 abad, studi tentang kata kerja Arab berada di garis depan kajian gramatika. Namun, belum ada yang secara khusus mengategorikan verba berdasarkan makna tindakan, proses, dan keadaan dalam dua korpus kamus yang berbeda,” ujar Yunus, sapaan akrabnya, di kampus UNS, Surakarta.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Dirasat: Human and Social Sciences Volume 52 tahun 2025 ini bukan sekadar analisis linguistik biasa. Yunus melakukan pembedahan mendalam terhadap dua kamus bergengsi: Al-Munawwir (Arab-Indonesia) dan kamus Duleim Masoud Al-Qahtani (Arab-Inggris), khusus untuk kata kerja yang diawali huruf ba’.

Mengurai Kompleksitas Bahasa Arab

Bayangkan mencoba memahami ribuan kata kerja dalam bahasa yang sistem penulisannya saja sudah berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Arab memiliki keunikan: dari tiga huruf akar, bisa lahir belasan bentuk kata kerja dengan makna yang bervariasi. Inilah yang disebut mujarrad (kata kerja dasar) dan mazīd (kata kerja turunan).

Dengan metode analisis biner, yakni memberi tanda plus untuk kehadiran komponen makna dan minus untuk ketiadaannya, Yunus mengkategorikan 62 kata kerja mujarrad dan 95 kata kerja mazīd. Hasilnya: 77,89% kata kerja turunan adalah verba tindakan, 20% verba proses, dan 25,26% verba keadaan.

“Verba tindakan mendominasi, sama seperti dalam bahasa Indonesia yang mencapai 51,3%. Ini menunjukkan kecenderungan universal dalam bahasa,” katanya.

Dari Teori ke Praktik

Riset ini bukan sekadar latihan akademis. Yunus melihat dampak langsungnya pada pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, yang selama ini cenderung fokus pada hafalan dan tata bahasa formal.

“Mahasiswa sering kesulitan memahami kapan menggunakan kata kerja tertentu karena kamus hanya memberi padanan kata, tanpa menjelaskan apakah itu menggambarkan tindakan aktif, proses yang terjadi pada subjek, atau keadaan subjek,” ujarnya.

Dengan kategorisasi semantik, pembelajaran bisa lebih kontekstual. Contohnya, kata ba’asa (berani) adalah verba keadaan yang menggambarkan kondisi mental, bukan tindakan fisik. Sementara bajja (membelah) jelas verba tindakan. Memahami perbedaan ini krusial dalam penerjemahan dan komunikasi lintas budaya.

Validasi riset ini melibatkan Ali Mohammed Saleh Al-Hamzi, penutur asli bahasa Arab dari Yaman. “Kolaborasi dengan native speaker memastikan akurasi data, sekaligus membuka dialog keilmuan lintas negara,” tambah Yunus.

Jembatan Pemahaman Antarperadaban

Di era globalisasi, kemampuan berkomunikasi lintas bahasa dan budaya menjadi keniscayaan. Bahasa Arab, yang dituturkan lebih dari 400 juta orang di 25 negara, adalah salah satu dari enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Riset Yunus memberikan kontribusi pada pengembangan kamus bilingual yang lebih komprehensif. “Kamus masa depan tidak cukup hanya memberi padanan kata. Harus ada informasi tentang kategori makna, sehingga pengguna tahu persis konteks penggunaannya,” katanya.

Lebih jauh, penelitian ini membuka jalan bagi studi multidisipliner yang mengintegrasikan morfologi dan semantik, dua cabang linguistik yang selama ini cenderung terpisah dalam kajian bahasa Arab.

Riset Berdampak untuk Pembangunan Berkelanjutan

Yunus menyadari, riset linguistik sering dianggap terlalu teoretis dan jauh dari kehidupan nyata. Namun, ia meyakini bahwa pemahaman bahasa adalah fondasi dari hampir semua Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB.

“Pendidikan berkualitas (SDG 4) tidak mungkin terwujud tanpa materi pembelajaran bahasa yang sistematis dan mudah dipahami,” ujarnya. “Ketika mahasiswa memahami struktur dan makna bahasa Arab dengan baik, mereka bisa mengakses literatur Arab klasik dan kontemporer yang kaya, mulai filsafat hingga sains.”

Lebih luas lagi, pemahaman bahasa yang mendalam mendukung kemitraan global (SDG 17). “Indonesia punya hubungan strategis dengan negara-negara Arab, baik dalam diplomasi, perdagangan, maupun pertukaran budaya. Penguasaan bahasa Arab yang tidak sekadar hafalan, tapi pemahaman mendalam, akan menghasilkan penerjemah, diplomat, dan akademisi yang lebih kompeten,” tegasnya.

Riset ini juga sejalan dengan SDG 9 tentang inovasi, karena menghadirkan pendekatan baru dalam analisis linguistik. Metodologi analisis biner yang diterapkan Yunus bisa diadaptasi untuk bahasa-bahasa lain, membuka peluang pengembangan teknologi pemrosesan bahasa alami (natural language processing) untuk bahasa Arab.

Agenda ke Depan

Yunus tidak berhenti di huruf ba’. Rencananya, seluruh 28 huruf hijaiyah akan dikaji dengan metode serupa. “Bayangkan jika kita punya peta lengkap ribuan kata kerja Arab dengan kategorisasi semantik yang jelas. Itu akan merevolusi cara kita belajar dan mengajar bahasa Arab,” katanya dengan antusias.

Ia juga berharap riset ini menginspirasi pengembangan aplikasi pembelajaran bahasa Arab berbasis artificial intelligence yang tidak hanya memberi terjemahan literal, tetapi juga konteks makna.

“Bahasa adalah jendela peradaban. Dengan memahami struktur dan makna bahasa Arab secara mendalam, kita tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga memahami cara berpikir dan pandangan dunia satu miliar lebih umat Islam di seluruh dunia,” pungkasnya.

Di tengah dinamika global yang menuntut dialog antarperadaban, riset seperti yang dilakukan Yunus Anis menjadi bukti bahwa ilmu linguistik bukan menara gading, melainkan jembatan pemahaman yang nyata dan sangat dibutuhkan. [adm]


Riset ini didanai oleh Universitas Sebelas Maret melalui skema penelitian fundamental tahun 2023, dengan nomor kontrak 228/UN27.22/PT.01.03/2023.

Program Studi Sastra Arab

Fakultas Ilmu Budaya 

Universitas Sebelas Maret (UNS)

Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

Tentang Kami

Tenaga Pengajar

Akreditasi

Tinggal di Solo

Mahasiswa

© 2025 Program Studi Sastra Arab UNS