SOLO, SASTRA ARAB UNS — Dosen Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), Muhammad Farkhan Mujahidin, S.Ag., M.Ag., melakukan monitoring mahasiswa bimbingannya yang tengah menjalani program magang di PT Aksara Solopos, Selasa (13/1/2026). Kunjungan ke kantor media yang beralamat di Jalan Adisucipto No. 190 Karangasem, Surakarta, itu disambut baik oleh pihak perusahaan. Farkhan menuturkan, mahasiswa Sastra Arab UNS akan melaksanakan magang di perusahaan penerbitan tersebut mulai 29 Januari hingga 28 Februari 2026. Program magang ini merupakan mata kuliah wajib yang menjadi salah satu bentuk konkret implementasi kerja sama antara Fakultas Ilmu Budaya UNS dengan PT Aksara Solopos dalam bidang tri dharma perguruan tinggi. “Magang menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan mereka, khususnya dalam bidang penerbitan, penyuntingan, dan penerjemahan,” ujar Farkhan. Sumi, perwakilan PT Aksara Solopos yang menerima kunjungan Farkhan, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin. Pihak perusahaan menyambut baik kehadiran mahasiswa untuk menimba pengalaman di dunia industri media. Farkhan berharap kerja sama ini dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan demi kemajuan kedua belah pihak. Program magang dinilai memberikan manfaat ganda: mahasiswa memperoleh pengalaman praktis di dunia kerja, sementara perusahaan mendapat kontribusi tenaga muda yang penuh semangat.Kerja sama bidang pendidikan antara perguruan tinggi dan industri media seperti ini dipandang strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan praktik profesional di lapangan. [adm]
Dosen Sastra Arab UNS Monitoring Magang Mahasiswa di Penerbit Aqwam
SUKOHARJO, SASTRA ARAB UNS — Abdul Malik, dosen Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), melakukan kunjungan monitoring mahasiswa magang di PT Aqwam Media Profetika, Rabu (28/1/2026). Kunjungan ke kantor penerbit yang berlokasi di Jalan Menco Raya Nomor 112, Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, itu untuk memantau perkembangan mahasiswa yang tengah menjalani program magang sejak 5 Januari hingga 15 Februari 2026. Magang merupakan mata kuliah wajib di Program Studi Sastra Arab sekaligus bentuk implementasi kerja sama Fakultas Ilmu Budaya UNS dengan PT Aqwam Media Profetika dalam bidang tri dharma perguruan tinggi. Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan, khususnya dalam bidang penerbitan, penyuntingan, dan penerjemahan. Adnan Ashari, Manajer PT Aqwam Media Profetika, menyambut baik kunjungan Abdul Malik. Dia mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin antara perusahaan penerbitan tersebut dengan perguruan tinggi. Abdul Malik menyatakan harapannya agar kerja sama ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan demi kemajuan kedua belah pihak. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri penerbitan dinilai strategis untuk mempersiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar. [adm]
Dosen Sastra Arab UNS Monitoring Magang Mahasiswa Sastra Arab di Balai Bahasa Jateng
SEMARANG, SASTRA ARAB UNS — Dosen Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) Afnan Arummi melakukan kunjungan monitoring mahasiswa magang ke Balai Bahasa Jawa Tengah, Selasa (27/1/2026). Kunjungan tersebut untuk memastikan pelaksanaan program magang berjalan optimal sejak 12 Januari hingga 20 Februari 2026. Afnan menekankan pentingnya program magang sebagai mata kuliah wajib di Program Studi Sastra Arab. “Magang memberikan kesempatan mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis di lembaga kebahasaan. Kami memastikan mereka mendapat bimbingan memadai,” ujarnya di kantor Balai Bahasa Jateng, Jalan Diponegoro, Kabupaten Semarang. Program magang merupakan wujud nyata kerja sama Fakultas Ilmu Budaya UNS dengan Balai Bahasa Jateng dalam bidang tri dharma perguruan tinggi. Afnan berharap kolaborasi dapat terus diperkuat untuk kemajuan kedua institusi. “Kami berharap kerja sama ini dipertahankan dan ditingkatkan. Sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga bahasa sangat strategis untuk pengembangan kompetensi mahasiswa,” katanya. Kepala Balai Bahasa Jateng Dwi Laily Sukmawati menyambut baik kunjungan tersebut. Ia mengapresiasi komitmen UNS dalam memastikan kualitas program magang mahasiswa. “Kehadiran mahasiswa UNS memberikan kontribusi positif bagi program-program kami,” ujar Dwi Laily. [adm]
Dosen Sastra Arab UNS Monitoring Mahasiswa Magang di Arsip Nasional
JAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Dosen Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS), Muhammad Yunus Anis, melakukan kunjungan monitoring terhadap mahasiswa magang di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Kamis (15/1/2026). Kunjungan ini menjadi bentuk pengawalan implementasi kerja sama kelembagaan antara perguruan tinggi dan lembaga negara. Yunus Anis, dosen pembimbing mahasiswa magang, disambut baik oleh Unit Kerja Hubungan Masyarakat ANRI yang diwakili Erieka dan Yosa di Kantor ANRI, Jalan Ampera Raya Nomor 7, Jakarta Selatan. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dengan diskusi terkait perkembangan mahasiswa selama menjalani program magang. Mahasiswa Sastra Arab UNS tengah menjalani program magang di ANRI sejak 5 Januari hingga 15 Februari 2026. Program ini merupakan salah satu bentuk konkret dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS dengan ANRI dalam kerangka tri dharma perguruan tinggi.“Pihak ANRI memberikan apresiasi positif terhadap kegiatan magang dan kerja sama yang terjalin,” ujar Yunus Anis usai pertemuan. Kerja sama kelembagaan antara perguruan tinggi dan lembaga negara seperti ANRI dinilai strategis untuk memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan akademis-profesional. Program magang di lembaga kearsipan nasional membuka peluang mahasiswa memahami pengelolaan dokumentasi negara yang menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan. [adm]
Memetakan Kata Kerja Arab: Riset Linguistik yang Membuka Pemahaman Lintas Budaya
Di ruang kerjanya yang dipenuhi kamus Arab berbagai edisi, Dr. Muhammad Yunus Anis, M.A., dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS), menemukan sesuatu yang luput dari perhatian para linguis selama berabad-abad. Kata kerja dalam bahasa Arab, yang selama ini dipelajari hanya dari aspek morfologi (perubahan bentuk kata) ternyata menyimpan pola makna yang sistematis ketika dikategorikan berdasarkan komponen semantiknya. “Selama 13 abad, studi tentang kata kerja Arab berada di garis depan kajian gramatika. Namun, belum ada yang secara khusus mengategorikan verba berdasarkan makna tindakan, proses, dan keadaan dalam dua korpus kamus yang berbeda,” ujar Yunus, sapaan akrabnya, di kampus UNS, Surakarta. Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Dirasat: Human and Social Sciences Volume 52 tahun 2025 ini bukan sekadar analisis linguistik biasa. Yunus melakukan pembedahan mendalam terhadap dua kamus bergengsi: Al-Munawwir (Arab-Indonesia) dan kamus Duleim Masoud Al-Qahtani (Arab-Inggris), khusus untuk kata kerja yang diawali huruf ba’. Mengurai Kompleksitas Bahasa Arab Bayangkan mencoba memahami ribuan kata kerja dalam bahasa yang sistem penulisannya saja sudah berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Arab memiliki keunikan: dari tiga huruf akar, bisa lahir belasan bentuk kata kerja dengan makna yang bervariasi. Inilah yang disebut mujarrad (kata kerja dasar) dan mazīd (kata kerja turunan). Dengan metode analisis biner, yakni memberi tanda plus untuk kehadiran komponen makna dan minus untuk ketiadaannya, Yunus mengkategorikan 62 kata kerja mujarrad dan 95 kata kerja mazīd. Hasilnya: 77,89% kata kerja turunan adalah verba tindakan, 20% verba proses, dan 25,26% verba keadaan. “Verba tindakan mendominasi, sama seperti dalam bahasa Indonesia yang mencapai 51,3%. Ini menunjukkan kecenderungan universal dalam bahasa,” katanya. Dari Teori ke Praktik Riset ini bukan sekadar latihan akademis. Yunus melihat dampak langsungnya pada pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, yang selama ini cenderung fokus pada hafalan dan tata bahasa formal. “Mahasiswa sering kesulitan memahami kapan menggunakan kata kerja tertentu karena kamus hanya memberi padanan kata, tanpa menjelaskan apakah itu menggambarkan tindakan aktif, proses yang terjadi pada subjek, atau keadaan subjek,” ujarnya. Dengan kategorisasi semantik, pembelajaran bisa lebih kontekstual. Contohnya, kata ba’asa (berani) adalah verba keadaan yang menggambarkan kondisi mental, bukan tindakan fisik. Sementara bajja (membelah) jelas verba tindakan. Memahami perbedaan ini krusial dalam penerjemahan dan komunikasi lintas budaya. Validasi riset ini melibatkan Ali Mohammed Saleh Al-Hamzi, penutur asli bahasa Arab dari Yaman. “Kolaborasi dengan native speaker memastikan akurasi data, sekaligus membuka dialog keilmuan lintas negara,” tambah Yunus. Jembatan Pemahaman Antarperadaban Di era globalisasi, kemampuan berkomunikasi lintas bahasa dan budaya menjadi keniscayaan. Bahasa Arab, yang dituturkan lebih dari 400 juta orang di 25 negara, adalah salah satu dari enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Riset Yunus memberikan kontribusi pada pengembangan kamus bilingual yang lebih komprehensif. “Kamus masa depan tidak cukup hanya memberi padanan kata. Harus ada informasi tentang kategori makna, sehingga pengguna tahu persis konteks penggunaannya,” katanya. Lebih jauh, penelitian ini membuka jalan bagi studi multidisipliner yang mengintegrasikan morfologi dan semantik, dua cabang linguistik yang selama ini cenderung terpisah dalam kajian bahasa Arab. Riset Berdampak untuk Pembangunan Berkelanjutan Yunus menyadari, riset linguistik sering dianggap terlalu teoretis dan jauh dari kehidupan nyata. Namun, ia meyakini bahwa pemahaman bahasa adalah fondasi dari hampir semua Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. “Pendidikan berkualitas (SDG 4) tidak mungkin terwujud tanpa materi pembelajaran bahasa yang sistematis dan mudah dipahami,” ujarnya. “Ketika mahasiswa memahami struktur dan makna bahasa Arab dengan baik, mereka bisa mengakses literatur Arab klasik dan kontemporer yang kaya, mulai filsafat hingga sains.” Lebih luas lagi, pemahaman bahasa yang mendalam mendukung kemitraan global (SDG 17). “Indonesia punya hubungan strategis dengan negara-negara Arab, baik dalam diplomasi, perdagangan, maupun pertukaran budaya. Penguasaan bahasa Arab yang tidak sekadar hafalan, tapi pemahaman mendalam, akan menghasilkan penerjemah, diplomat, dan akademisi yang lebih kompeten,” tegasnya. Riset ini juga sejalan dengan SDG 9 tentang inovasi, karena menghadirkan pendekatan baru dalam analisis linguistik. Metodologi analisis biner yang diterapkan Yunus bisa diadaptasi untuk bahasa-bahasa lain, membuka peluang pengembangan teknologi pemrosesan bahasa alami (natural language processing) untuk bahasa Arab. Agenda ke Depan Yunus tidak berhenti di huruf ba’. Rencananya, seluruh 28 huruf hijaiyah akan dikaji dengan metode serupa. “Bayangkan jika kita punya peta lengkap ribuan kata kerja Arab dengan kategorisasi semantik yang jelas. Itu akan merevolusi cara kita belajar dan mengajar bahasa Arab,” katanya dengan antusias. Ia juga berharap riset ini menginspirasi pengembangan aplikasi pembelajaran bahasa Arab berbasis artificial intelligence yang tidak hanya memberi terjemahan literal, tetapi juga konteks makna. “Bahasa adalah jendela peradaban. Dengan memahami struktur dan makna bahasa Arab secara mendalam, kita tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga memahami cara berpikir dan pandangan dunia satu miliar lebih umat Islam di seluruh dunia,” pungkasnya. Di tengah dinamika global yang menuntut dialog antarperadaban, riset seperti yang dilakukan Yunus Anis menjadi bukti bahwa ilmu linguistik bukan menara gading, melainkan jembatan pemahaman yang nyata dan sangat dibutuhkan. [adm] Riset ini didanai oleh Universitas Sebelas Maret melalui skema penelitian fundamental tahun 2023, dengan nomor kontrak 228/UN27.22/PT.01.03/2023.
Ketika Bahasa Arab di Instagram Jadi Peta Ideologi Islam
Riset dosen Sastra Arab UNS membongkar bagaimana pilihan kata dalam media sosial mencerminkan pertarungan pemikiran Islam di Indonesia. Sekilas, unggahan di Instagram @muslimorid dan @nuonline_id tampak serupa: keduanya berbagi konten keislaman dengan sisipan bahasa Arab. Namun, di balik teks-teks itu, tersembunyi peta ideologi yang berbeda. Yang satu menekankan bid’ah (bidah) dan shirk (syirik), yang lain membicarakan mu’ādalah (keadilan) dan muwāzanah (keseimbangan). Dr. Khabibi Muhammad Luthfi, dosen Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, menemukan pola menarik ini setelah menganalisis 3.908 unggahan dan komentar di Instagram selama Februari hingga Juli 2025. Bersama tim risetnya, Reza Sukma Nugraha, Eva Farhah, dan Afnan Arummi, ia memetakan tujuh bentuk alih kode bahasa Indonesia-Arab yang digunakan komunitas Salafi dan Nahdlatul Ulama (NU). “Alih kode bukan sekadar fenomena linguistik. Ini instrumen diskursif yang menanamkan ideologi dalam ruang digital,” ujar Khabibi, yang menyelesaikan doktoralnya di UIN Sunan Kalijaga pada 2018. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Language Teaching and Research Volume 17, Nomor 1, Tahun 2026, ini menggunakan pendekatan etnografi Spradley dan analisis wacana kritis Fairclough untuk membedah 366 unggahan yang mengandung alih kode Arab-Indonesia. Tujuh Wajah Alih Kode Temuan Khabibi merinci tujuh bentuk alih kode: peralihan segmen teks, peralihan tingkat klausa, peralihan frasa non-hibrid, peralihan frasa hibrid, penyisipan leksikal non-hibrid, penyisipan leksikal hibrid, dan penyisipan formulaik. Komunitas Salafi, yang diwakili akun @muslimorid dengan lebih dari 759.000 pengikut, cenderung menggunakan frasa hibrid (119 kasus) dan penyisipan formulaik (175 kasus). Mereka kerap menyematkan gelar seperti ustādh (ustadz) untuk penceramah modern dan akh (akh, saudara) untuk intelektual muda Muslim. Sebaliknya, NU melalui @nuonline_id yang memiliki lebih dari 1,4 juta pengikut, lebih dominan dalam peralihan frasa non-hibrid (141 kasus) dan penyisipan leksikal non-hibrid (174 kasus). Istilah-istilah fikih klasik seperti al-madhāhib al-arba’ah (empat mazhab Sunni) dan rujukan kepada ulama seperti al-Khaṭīb asy-Syirbīnī kerap muncul. “Pola ini mencerminkan perbedaan mendasar: Salafi menekankan identitas personal melalui rujukan langsung pada Al-Quran dan Hadis, sementara NU mengedepankan otoritas ulama klasik dan teks-teks fikih,” jelas Khabibi. Pertarungan Otoritas Keagamaan Yang mengejutkan, perbedaan alih kode ini ternyata memetakan pertarungan otoritas keagamaan di Indonesia. Komunitas Salafi konsisten mengutip langsung ayat Al-Quran dan Hadis dalam bahasa Arab, menempatkan teks suci sebagai sumber otoritas tertinggi yang dapat diakses langsung tanpa perantara. NU, sebaliknya, menempatkan Al-Quran dan Hadis dalam kerangka interpretasi ulama klasik. Kutipan dari kitab-kitab seperti al-Fatāwā al-fiqhiyyah al-kubrā karya Ibnu Hajar al-Haytami lebih sering muncul ketimbang ayat Al-Quran yang berdiri sendiri. “Ini bukan semata soal bahasa, tapi soal epistemologi: bagaimana pengetahuan agama diproduksi dan divalidasi,” kata Khabibi. Perbedaan strategi dakwah pun terlihat jelas. Akun Salafi cenderung direktif, menggunakan bahasa yang menegur atau memperingatkan, dengan komentar yang minim dan searah. Sebaliknya, akun NU lebih dialogis, dengan admin yang sesekali membalas komentar pengikut untuk memberi klarifikasi atau penegasan. Dari Stigma hingga Solusi Riset ini berangkat dari keresahan Khabibi terhadap stigma yang melekat pada penggunaan bahasa Arab di Indonesia. Pada 2021, intelijen negara sempat mengaitkan penggunaan bahasa Arab dengan indikasi terorisme, memicu protes akademisi Muslim. “Generalisasi semacam ini berbahaya. Riset kami menunjukkan bahwa alih kode Arab-Indonesia adalah praktik normal dalam komunitas Islam digital, bukan penanda radikalisme,” tegasnya. Temuan ini membuka peluang praktis. Khabibi menyarankan kurikulum bahasa Arab di Indonesia perlu merespons realitas alih kode ideologis ini. Untuk komunitas Salafi yang menggunakan peralihan frasa hibrid dengan rujukan skriptural langsung, kurikulum bisa membangun kemampuan kosakata Arab-Indonesia secara bertahap—dari kata parsial hingga wacana utuh—untuk meningkatkan kemampuan membaca teks Arab. Sebaliknya, penyisipan leksikal non-hibrid NU yang terkait dengan istilah fikih dan ulama klasik memungkinkan pedagogi yang responsif secara kultural dalam tradisi pesantren, meningkatkan pemahaman dan komunikasi lisan melalui pendekatan multibahasa yang dialogis. “Platform digital seperti Instagram bisa dimanfaatkan untuk modul pembelajaran berbicara secara daring, mendorong mahasiswa mengekspresikan narasi keagamaan sekaligus mengembangkan fleksibilitas interpretatif,” ujar Khabibi. Relevansi Global Riset Khabibi dan timnya punya implikasi besar dalam memotret fenomena alih kode secara global. “Ini berkontribusi pada studi wacana multibahasa global, pedagogi bahasa Arab, dan strategi dakwah Islam inklusif di ruang digital,” katanya. Yang tak kalah penting, penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, dan SDG 16 tentang perdamaian dan keadilan. “Dengan memahami bagaimana alih kode mencerminkan ideologi, kita bisa mengembangkan komunikasi Islam digital yang lebih inklusif, mengurangi prasangka antarkelompok, dan mempromosikan literasi bahasa yang sensitif terhadap keragaman pemikiran,” pungkas Khabibi. Risetnya membuktikan bahwa di era digital, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah medan pertarungan makna, identitas, dan kekuasaan yang bisa dipetakan, dipahami, dan diarahkan menuju dialog yang lebih konstruktif. [adm] Penelitian ini didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret melalui kontrak nomor 371/UN27.22/PT.01.03/2025.
Prodi Sastra Arab UNS Tempati Posisi Kedua Nasional dalam Kinerja Publikasi Ilmiah
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih peringkat kedua nasional untuk kinerja penelitian dan publikasi ilmiah. Pencapaian ini didasarkan pada skor SINTA 3 Tahun (SINTA Score 3 Years) yang dirilis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Data yang diambil per 2 Januari 2026 dari laman resmi SINTA menunjukkan produktivitas civitas akademika Sastra Arab UNS dalam menghasilkan karya ilmiah berkualitas mengalami peningkatan signifikan. SINTA Score 3Y merupakan metrik pengukuran kinerja publikasi ilmiah peneliti yang dihitung berdasarkan aktivitas dan pencapaian ilmiah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen para dosen Sastra Arab UNS dalam meningkatkan produktivitas riset melalui berbagai upaya sistematis. Kolaborasi antarpeneliti dan orientasi riset yang berdampak pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG’s) menjadi strategi utama yang ditempuh program studi. Pencapaian peringkat kedua nasional ini sekaligus menegaskan posisi Sastra Arab UNS sebagai salah satu pusat kajian dan riset bahasa Arab terdepan di Indonesia. Capaian tersebut diharapkan dapat memacu program studi sejenis untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan kontribusi keilmuan bagi pengembangan studi Arab di Tanah Air. Sistem SINTA sendiri merupakan portal resmi yang dikembangkan Kementerian Pendikbudristek untuk mengukur kinerja sains dan teknologi di Indonesia, termasuk produktivitas publikasi ilmiah perguruan tinggi dan peneliti. [adm]
Bangkit dari Pusaran Sejarah, Teater OASE Hadirkan Dilema Perjuangan Lewat Drama QUM!
Lampu panggung meredup di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Kamis (5/12/2025) malam. Di atas pentas, dua pemuda berdiri berhadap-hadapan. Satu yakin diplomasi adalah jalan, yang lain memegang teguh perlawanan bersenjata. Ketegangan masa pendudukan Jepang menyelimuti setiap dialog mereka. Begitulah Teater OASE Universitas Sebelas Maret (UNS) membuka pementasan besar ke-13 mereka, QUM!, sebuah seruan dalam bahasa Arab yang berarti “bangkitlah!”. Lebih dari sekadar pertunjukan, drama ini menjadi cermin bagi generasi muda untuk menatap kembali pergulatan moral para pendahulu bangsa. Dua Jalan, Satu Tujuan Andi dan Munir, dua tokoh sentral dalam QUM!, merepresentasikan dikotomi strategi perjuangan kemerdekaan. Andi menempuh jalan diplomasi—minim korban, penuh perhitungan. Munir memilih kekerasan sebagai respons atas kekerasan penjajah. “Ini bukan soal siapa yang benar,” ujar Prasidya Fajar Ramdhani, sutradara QUM!, usai pementasan. “Ini tentang bagaimana sejarah memaksa manusia membuat pilihan dalam situasi yang tak ada yang mudah.” Konflik kedua tokoh memuncak ketika sebuah tragedi mengguncang tatanan rapuh masyarakat di bawah pendudukan. Penonton dihadapkan pada pertanyaan: strategi mana yang lebih tepat ketika kemanusiaan dipertaruhkan? Karya Kolektif 74 Mahasiswa Pementasan yang berlangsung selama hampir dua jam ini melibatkan 6 aktor, 52 kru pemanggungan, dan 22 kru produksi. Seluruhnya adalah mahasiswa Sastra Arab UNS lintas peminatan. M. Ali Mukti, pemimpin produksi, mengaku proses kreatif dimulai sejak pertengahan tahun dengan riset mendalam tentang periode pendudukan Jepang. “Kami tidak ingin sekadar menghadirkan drama sejarah. Kami ingin penonton merasakan dilema yang dialami para pejuang,” kata Ali. Riset mencakup kajian literatur sejarah, wawancara dengan akademisi, hingga eksplorasi arsip visual untuk memastikan akurasi konteks sosial-politik. Hasilnya, panggung yang disulap menjadi ruang interogasi, markas perlawanan, hingga lorong-lorong gelap masa pendudukan. Teater sebagai Media Pembelajaran Sejarah Sejak berdiri pada 2014, Teater OASE konsisten mengangkat tema-tema yang menyentuh kesadaran kolektif. QUM! melanjutkan tradisi itu dengan pendekatan yang lebih ambisius, yakni menjadikan teater sebagai ruang pembelajaran historis yang emosional. “Buku sejarah memberi fakta, tapi teater memberi pengalaman,” kata Prasidya. “Penonton tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi merasakan tekanan yang dirasakan tokoh-tokoh itu.” Seruan untuk Generasi Kini Judul QUM! bukan sekadar panggilan untuk bangkit dari penjajahan fisik, tapi juga kebangkitan kesadaran. Di tengah era di mana sejarah kerap disederhanakan dalam narasi digital, Teater OASE mengingatkan pentingnya memahami kompleksitas peristiwa masa lalu. “Kami berharap penonton membawa pulang satu pertanyaan: apa artinya bangkit di zaman sekarang?” kata Ali Mukti menutup perbincangan. Panggung gelap kembali. Tapi pertanyaan itu terus bergema, jauh setelah tirai ditutup. [adm]
Ajak Siswa Mengenal Tokoh Islam, Mahasiswa Sastra Arab UNS Adakan Storytelling Imersif
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Sebanyak 160 siswa mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah tokoh Arab, Ibnu Batutah, melalui metode interaktif dan imersif di Pondok Qur’an Alima, Minggu (7/12/2025). Kegiatan bertajuk Amazing Heroes ini merupakan kolaborasi Pondok Qur’an Alima dengan mahasiswa Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam tim Hibah Jarpak ID 1574 UNS. Acara yang berlangsung selama sehari penuh itu mengangkat tema “Ibnu Batutah Sang Penjelajah”. Kegiatan dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar sejarah Arab yang inovatif, menyenangkan, dan ramah anak. Ketua Tim Hibah Jarpak ID 1574 UNS, Najwa Haura, menjelaskan, kegiatan ini menampilkan dua bentuk pembelajaran utama. Pertama, pameran interaktif yang terdiri dari empat display , yakni guestboard, flip-card, board kisah perjalanan Ibnu Batutah, dan peta eksploratif yang disertai beberapa miniatur bangunan ikonik negara-negara Timur Tengah. Kedua, storytelling imersif yang dibawakan pendongeng nasional dengan visualisasi perjalanan tokoh penjelajah muslim tersebut. “Kami ingin anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan pengalaman menjelajah seperti Ibnu Batutah. Makanya kami hadirkan metode yang imersif dan interaktif,” ujar Najwa. Antusiasme peserta, yang mayoritas anak-anak, terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Mereka aktif berpartisipasi dalam setiap sesi, mulai dari mengisi guestboard hingga menyimak storytelling yang dikemas secara menarik. Tim Hibah Jarpak ID 1574 UNS beranggotakan enam mahasiswa, yaitu Najwa Haura, Nabila Sifa, Nur Alfiyanti, Sabrina Salsabila, Zahra Amalia, dan Alif Rabbani. Kegiatan ini didanai UNS melalui program Hibah Pembelajaran Berdampak (Jarpak) 2025. Program Jarpak merupakan skema pendanaan yang diberikan UNS untuk mendorong mahasiswa mengembangkan inovasi pembelajaran yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Inovasi pada acara Amazing Heroes menjadi salah satu bukti komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan pembelajaran berkualitas di luar kampus. [adm]
UNS Alumna at Kompas: Bringing a Human Touch to Journalism in an AI World
Ruang redaksi Kompas.com menjadi saksi bagaimana Alinda Hardiantoro, alumnus Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2017, menjalani hari-harinya sebagai reporter. Setiap pagi, ia berhadapan dengan rentetan isu yang harus dibedah: politik, ekonomi, hukum, kesehatan, lifestyle, hingga konflik internasional. Di tangannya, berita-berita itu diolah menjadi narasi yang runtut, berimbang, dan yang terpenting: terverifikasi. “Bekerja sebagai wartawan campur aduk banget rasanya,” ujar perempuan yang kini bertugas di PT Kompas Cyber Media sejak Februari 2022 itu. Excited, senang, lelah, semuanya bercampur dalam ritme kerja yang menuntut disiplin tinggi dan kemampuan update informasi secara cepat di era media sosial. Jejak Awal: Perpustakaan dan Buku Andy Noya Benih kecintaan Alinda pada menulis dan jurnalisme ditanam sejak masa kanak-kanak. Akses ke perpustakaan SD yang lengkap membuka dunianya pada bacaan. Kebiasaan membaca itu terus dipupuk hingga ia aktif di ekstrakurikuler jurnalistik semasa SMP dan SMK. Titik balik terjadi saat magang di PT Garudafood Putra-Putri Jaya, Gresik, menjelang lulus SMK. Di sana, Alinda membaca buku karya Andy Noya yang memperkenalkannya pada profesi wartawan, pekerjaan yang membutuhkan disiplin sekaligus minat tinggi pada membaca dan menulis. “Sepertinya, sejak saat itu mulai bercita-cita jadi wartawan,” kenangnya. Namun, jalan menuju cita-cita itu tidak langsung lurus. Saat kuliah di Sastra Arab UNS, Alinda terlambat mendaftar Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Ia kemudian bergabung dengan Kalpadruma FIB dan mengambil mata kuliah jurnalistik meski tidak wajib. Bahkan, di semester lima, ia memilih magang di Kementerian Luar Negeri ketimbang media. “Kapan lagi bisa magang di sana, kan?” ujarnya. Menemukan Passion Bersama Eka Kurniawan Sebuah seminar tentang passion bersama sastrawan Eka Kurniawan menjadi momen pencerahan bagi Alinda. Pernyataan Eka menggema dalam ingatannya, “Kalau kamu suka bahkan cinta pada sesuatu, kamu tak akan bingung memulainya.” Kata-kata itu membuat Alinda mengingat kembali kesenangannya membaca dan menulis. “Saya pikir, saya sudah menemukan passion saya, menulis,” katanya. Di sela-sela mengerjakan skripsi, Alinda mulai aktif menulis di blog dan magang sebagai jurnalis di Humas UNS. Langkah-langkah itu bukan hanya untuk menyalurkan minat, tapi juga mengumpulkan portofolio. Masuk Kompas.com: Verifikasi dan Ketelitian Akhir 2021, Alinda menemukan lowongan reporter di Kompas.com melalui Kalibrr. Ia mendaftar dengan portofolio tulisan dari masa magang di Humas UNS dan tulisan evergreen dari tempat kerja sebelumnya.Proses seleksi berlangsung ketat, interview bersama HR dan user, dilanjutkan tes tertulis yang meliputi penulisan berita dan rencana liputan. Sekitar Januari 2022, kabar baik tiba. Alinda dinyatakan lolos dan mulai bekerja Februari 2022. Sebagai reporter di kanal Tren yang dikenal sebagai kanal “palugada” atau apa saja ada, job desc Alinda tidak sekadar menulis. Ia harus mencari topik berita, menentukan narasumber yang tepat, melakukan wawancara, riset data, mengolah hasil wawancara, baru kemudian menulis berita. Bahasa Arab sebagai Senjata Latar belakang Sastra Arab ternyata menjadi aset berharga dalam pekerjaan Alinda, terutama saat meliput berita-berita Timur Tengah seperti konflik Hamas versus Israel di Gaza. “Kemampuan bahasa Arab sangat dibutuhkan. Saya dituntut mencari sumber yang kredibel dan berimbang sebelum diolah menjadi tulisan berita,” ungkapnya. Penerjemahan dari bahasa Arab ke Indonesia yang tepat menjadi krusial mengingat isu-isu konflik sangat sensitif dan rawan misleading. Di Kompas.com, Alinda bukan satu-satunya lulusan Sastra Arab. Editornya kebetulan juga alumnus Sastra Arab UGM. Namun, lulusan Sastra Arab di redaksi itu bisa dihitung dengan jari. Tantangan di Era AI Di tengah dinamika pekerjaan yang menyenangkan seperti atmosfer kerja tanpa senioritas, kesempatan bertemu tokoh-tokoh inspiratif, dan jaringan yang terus meluas, Alinda menghadapi tantangan baru: penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam penulisan berita. “Sekarang orang-orang kalau menulis sudah bisa pakai AI. Lebih cepat, tinggal masukin prompt, naskah berita sudah jadi,” katanya. Beberapa waktu lalu, sempat viral berita yang ketahuan ditulis pakai AI tapi lupa tidak diedit. Ia mengingat sebuah insiden yang sempat ramai diperbincangkan di kalangan jurnalis. “Beberapa waktu yang lalu sempat viral berita yang ketahuan ditulis pakai AI tapi lupa enggak diedit,” ujar Alinda. Kasus itu menjadi peringatan keras bagi industri media bahwa kemudahan teknologi bisa menjadi jebakan jika mengorbankan kualitas dan kredibilitas. Kejadian tersebut memperkuat keyakinan Alinda untuk tidak sekadar mengejar kecepatan. Menghadapi tantangan ini, ia memiliki cara yang berbeda. “Saya cuma bisa menghadapi tantangan ini dengan mencoba menulis menggunakan rasa dan menghadirkan apa yang tidak dilihat pembaca melalui tulisan saya.” Prinsip inilah yang membedakan produk jurnalis dengan konten kreator: verifikasi dan konfirmasi. Ketelitian dalam mencari sumber, keberanian mengonfirmasi langsung kepada narasumber, dan kemampuan menghadirkan sudut pandang yang lebih dalam tidak bisa digantikan algoritma. Pesan untuk Adik Tingkat Bagi mahasiswa yang berminat terjun ke dunia jurnalistik, Alinda punya pesan sederhana: mulailah menulis. “Meski sekarang produk video lebih dinikmati, tapi menulis tetap jadi modal utama. Kalau tulisan bagus, mau diolah jadi produk video atau apa pun, hasilnya juga bagus dan mudah dimengerti audiens,” tuturnya. Ia menyarankan untuk menulis apa saja yang dilihat setiap hari. Jika ada keresahan, tulislah. Setelah itu, cobalah untuk mengonfirmasi dan memverifikasi, bertanya kepada orang yang mengalami, atau dosen dan pakar yang memahami isu tersebut. Hasil tulisan atau video bisa diunggah di blog, media sosial, atau dikirim ke kantor media. “Ada banyak sekali platform yang bisa digunakan untuk mengumpulkan portofolio sebagai penunjang mencari pekerjaan setelah lulus dari perkuliahan,” katanya. Di ruang redaksi yang sibuk, Alinda terus mengasah kemampuannya menulis dengan rasa. Setiap berita yang ia olah adalah bukti bahwa passion yang ditemukan sejak kecil, yakni membaca dan menulis, kini menjadi jalan hidup yang ia jalani dengan penuh keyakinan. Seperti kata Eka Kurniawan yang ia ingat: jika kamu cinta pada sesuatu, kamu tak akan bingung memulainya. [adm]