CONTACT US

Edit Template

CONTACT US

Edit Template

Ketika Bahasa Arab di Instagram Jadi Peta Ideologi Islam

Riset dosen Sastra Arab UNS membongkar bagaimana pilihan kata dalam media sosial mencerminkan pertarungan pemikiran Islam di Indonesia.

Sekilas, unggahan di Instagram @muslimorid dan @nuonline_id tampak serupa: keduanya berbagi konten keislaman dengan sisipan bahasa Arab. Namun, di balik teks-teks itu, tersembunyi peta ideologi yang berbeda. Yang satu menekankan bid’ah (bidah) dan shirk (syirik), yang lain membicarakan mu’ādalah (keadilan) dan muwāzanah (keseimbangan).

Dr. Khabibi Muhammad Luthfi, dosen Program Studi Sastra Arab, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Sebelas Maret, menemukan pola menarik ini setelah menganalisis 3.908 unggahan dan komentar di Instagram selama Februari hingga Juli 2025. Bersama tim risetnya, Reza Sukma Nugraha, Eva Farhah, dan Afnan Arummi, ia memetakan tujuh bentuk alih kode bahasa Indonesia-Arab yang digunakan komunitas Salafi dan Nahdlatul Ulama (NU).

“Alih kode bukan sekadar fenomena linguistik. Ini instrumen diskursif yang menanamkan ideologi dalam ruang digital,” ujar Khabibi, yang menyelesaikan doktoralnya di UIN Sunan Kalijaga pada 2018.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Language Teaching and Research Volume 17, Nomor 1, Tahun 2026, ini menggunakan pendekatan etnografi Spradley dan analisis wacana kritis Fairclough untuk membedah 366 unggahan yang mengandung alih kode Arab-Indonesia.

Tujuh Wajah Alih Kode

Temuan Khabibi merinci tujuh bentuk alih kode: peralihan segmen teks, peralihan tingkat klausa, peralihan frasa non-hibrid, peralihan frasa hibrid, penyisipan leksikal non-hibrid, penyisipan leksikal hibrid, dan penyisipan formulaik.

Komunitas Salafi, yang diwakili akun @muslimorid dengan lebih dari 759.000 pengikut, cenderung menggunakan frasa hibrid (119 kasus) dan penyisipan formulaik (175 kasus). Mereka kerap menyematkan gelar seperti ustādh (ustadz) untuk penceramah modern dan akh (akh, saudara) untuk intelektual muda Muslim.

Sebaliknya, NU melalui @nuonline_id yang memiliki lebih dari 1,4 juta pengikut, lebih dominan dalam peralihan frasa non-hibrid (141 kasus) dan penyisipan leksikal non-hibrid (174 kasus). Istilah-istilah fikih klasik seperti al-madhāhib al-arba’ah (empat mazhab Sunni) dan rujukan kepada ulama seperti al-Khaṭīb asy-Syirbīnī kerap muncul.

“Pola ini mencerminkan perbedaan mendasar: Salafi menekankan identitas personal melalui rujukan langsung pada Al-Quran dan Hadis, sementara NU mengedepankan otoritas ulama klasik dan teks-teks fikih,” jelas Khabibi.

Pertarungan Otoritas Keagamaan

Yang mengejutkan, perbedaan alih kode ini ternyata memetakan pertarungan otoritas keagamaan di Indonesia. Komunitas Salafi konsisten mengutip langsung ayat Al-Quran dan Hadis dalam bahasa Arab, menempatkan teks suci sebagai sumber otoritas tertinggi yang dapat diakses langsung tanpa perantara.

NU, sebaliknya, menempatkan Al-Quran dan Hadis dalam kerangka interpretasi ulama klasik. Kutipan dari kitab-kitab seperti al-Fatāwā al-fiqhiyyah al-kubrā karya Ibnu Hajar al-Haytami lebih sering muncul ketimbang ayat Al-Quran yang berdiri sendiri.

“Ini bukan semata soal bahasa, tapi soal epistemologi: bagaimana pengetahuan agama diproduksi dan divalidasi,” kata Khabibi.

Perbedaan strategi dakwah pun terlihat jelas. Akun Salafi cenderung direktif, menggunakan bahasa yang menegur atau memperingatkan, dengan komentar yang minim dan searah. Sebaliknya, akun NU lebih dialogis, dengan admin yang sesekali membalas komentar pengikut untuk memberi klarifikasi atau penegasan.

Dari Stigma hingga Solusi

Riset ini berangkat dari keresahan Khabibi terhadap stigma yang melekat pada penggunaan bahasa Arab di Indonesia. Pada 2021, intelijen negara sempat mengaitkan penggunaan bahasa Arab dengan indikasi terorisme, memicu protes akademisi Muslim.

“Generalisasi semacam ini berbahaya. Riset kami menunjukkan bahwa alih kode Arab-Indonesia adalah praktik normal dalam komunitas Islam digital, bukan penanda radikalisme,” tegasnya.

Temuan ini membuka peluang praktis. Khabibi menyarankan kurikulum bahasa Arab di Indonesia perlu merespons realitas alih kode ideologis ini. Untuk komunitas Salafi yang menggunakan peralihan frasa hibrid dengan rujukan skriptural langsung, kurikulum bisa membangun kemampuan kosakata Arab-Indonesia secara bertahap—dari kata parsial hingga wacana utuh—untuk meningkatkan kemampuan membaca teks Arab.

Sebaliknya, penyisipan leksikal non-hibrid NU yang terkait dengan istilah fikih dan ulama klasik memungkinkan pedagogi yang responsif secara kultural dalam tradisi pesantren, meningkatkan pemahaman dan komunikasi lisan melalui pendekatan multibahasa yang dialogis.

“Platform digital seperti Instagram bisa dimanfaatkan untuk modul pembelajaran berbicara secara daring, mendorong mahasiswa mengekspresikan narasi keagamaan sekaligus mengembangkan fleksibilitas interpretatif,” ujar Khabibi.

Relevansi Global

Riset Khabibi dan timnya punya implikasi besar dalam memotret fenomena alih kode secara global. “Ini berkontribusi pada studi wacana multibahasa global, pedagogi bahasa Arab, dan strategi dakwah Islam inklusif di ruang digital,” katanya.

Yang tak kalah penting, penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, dan SDG 16 tentang perdamaian dan keadilan.

“Dengan memahami bagaimana alih kode mencerminkan ideologi, kita bisa mengembangkan komunikasi Islam digital yang lebih inklusif, mengurangi prasangka antarkelompok, dan mempromosikan literasi bahasa yang sensitif terhadap keragaman pemikiran,” pungkas Khabibi.

Risetnya membuktikan bahwa di era digital, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah medan pertarungan makna, identitas, dan kekuasaan yang bisa dipetakan, dipahami, dan diarahkan menuju dialog yang lebih konstruktif. [adm]


Penelitian ini didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret melalui kontrak nomor 371/UN27.22/PT.01.03/2025.

Arabic Literature Study Program

Faculty of Cultural Sciences 

Universitas Sebelas Maret (UNS)

Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

About Us

Faculty Members

Accreditation

Living in Solo

Students

© 2025 Arabic Literature Study Program