CONTACT US

Edit Template

CONTACT US

Edit Template

Bangkit dari Pusaran Sejarah, Teater OASE Hadirkan Dilema Perjuangan Lewat Drama QUM!

Lampu panggung meredup di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Kamis (5/12/2025) malam. Di atas pentas, dua pemuda berdiri berhadap-hadapan. Satu yakin diplomasi adalah jalan, yang lain memegang teguh perlawanan bersenjata. Ketegangan masa pendudukan Jepang menyelimuti setiap dialog mereka.

Begitulah Teater OASE Universitas Sebelas Maret (UNS) membuka pementasan besar ke-13 mereka, QUM!, sebuah seruan dalam bahasa Arab yang berarti “bangkitlah!”. Lebih dari sekadar pertunjukan, drama ini menjadi cermin bagi generasi muda untuk menatap kembali pergulatan moral para pendahulu bangsa.

Dua Jalan, Satu Tujuan

Andi dan Munir, dua tokoh sentral dalam QUM!, merepresentasikan dikotomi strategi perjuangan kemerdekaan. Andi menempuh jalan diplomasi—minim korban, penuh perhitungan. Munir memilih kekerasan sebagai respons atas kekerasan penjajah.

“Ini bukan soal siapa yang benar,” ujar Prasidya Fajar Ramdhani, sutradara QUM!, usai pementasan. “Ini tentang bagaimana sejarah memaksa manusia membuat pilihan dalam situasi yang tak ada yang mudah.”

Konflik kedua tokoh memuncak ketika sebuah tragedi mengguncang tatanan rapuh masyarakat di bawah pendudukan. Penonton dihadapkan pada pertanyaan: strategi mana yang lebih tepat ketika kemanusiaan dipertaruhkan?

Karya Kolektif 74 Mahasiswa

Pementasan yang berlangsung selama hampir dua jam ini melibatkan 6 aktor, 52 kru pemanggungan, dan 22 kru produksi. Seluruhnya adalah mahasiswa Sastra Arab UNS lintas peminatan. M. Ali Mukti, pemimpin produksi, mengaku proses kreatif dimulai sejak pertengahan tahun dengan riset mendalam tentang periode pendudukan Jepang.

“Kami tidak ingin sekadar menghadirkan drama sejarah. Kami ingin penonton merasakan dilema yang dialami para pejuang,” kata Ali.

Riset mencakup kajian literatur sejarah, wawancara dengan akademisi, hingga eksplorasi arsip visual untuk memastikan akurasi konteks sosial-politik. Hasilnya, panggung yang disulap menjadi ruang interogasi, markas perlawanan, hingga lorong-lorong gelap masa pendudukan.

Teater sebagai Media Pembelajaran Sejarah

Sejak berdiri pada 2014, Teater OASE konsisten mengangkat tema-tema yang menyentuh kesadaran kolektif. QUM! melanjutkan tradisi itu dengan pendekatan yang lebih ambisius, yakni menjadikan teater sebagai ruang pembelajaran historis yang emosional.

“Buku sejarah memberi fakta, tapi teater memberi pengalaman,” kata Prasidya. “Penonton tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi merasakan tekanan yang dirasakan tokoh-tokoh itu.”

Seruan untuk Generasi Kini

Judul QUM! bukan sekadar panggilan untuk bangkit dari penjajahan fisik, tapi juga kebangkitan kesadaran. Di tengah era di mana sejarah kerap disederhanakan dalam narasi digital, Teater OASE mengingatkan pentingnya memahami kompleksitas peristiwa masa lalu.

“Kami berharap penonton membawa pulang satu pertanyaan: apa artinya bangkit di zaman sekarang?” kata Ali Mukti menutup perbincangan.

Panggung gelap kembali. Tapi pertanyaan itu terus bergema, jauh setelah tirai ditutup. [adm]

Arabic Literature Study Program

Faculty of Cultural Sciences 

Universitas Sebelas Maret (UNS)

Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

About Us

Faculty Members

Accreditation

Living in Solo

Students

© 2025 Arabic Literature Study Program