SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan webinar bertajuk “Kajian Inspiratif: Cara Kreatif Menjaga Hafalan Al-Qur’an” pada Sabtu (22/11/2025) malam. Kegiatan daring melalui Zoom Meeting yang dimulai pukul 19.45 WIB itu merespons keluhan generasi muda tentang sulitnya menjaga konsistensi hafalan di tengah kesibukan akademik dan pekerjaan. Aminu Khidhir, mahasiswa Sastra Arab UNS sekaligus hafidz, hadir sebagai narasumber. Dalam paparannya, ia membedah tantangan yang kerap dihadapi para penghafal Al-Qur’an. “Menjaga hafalan bukanlah beban, melainkan kebutuhan jiwa,” ujarnya. Aminu membagikan strategi muraja’ah (pengulangan hafalan) yang efektif, tips mengatasi kejenuhan, hingga motivasi membangun kembali semangat. Diskusi berlangsung interaktif, memberi peserta wawasan baru untuk menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan penghafal Al-Qur’an. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi tim mahasiswa beranggotakan Ahmad Juhdan Abu Bakr, Aminu Khidir, Julianto, dan Muzzayin Haris. Tim dibimbing Dr Muhammad Farkhan Mujahidin, M.Ag. “Kami berharap memberikan manfaat nyata, bukan hanya teori menghafal, tetapi juga mempererat ukhuwah antar-sobat Qur’ani,” kata tim penyelenggara. Melalui forum tersebut, peserta diharapkan memiliki strategi lebih matang untuk istiqomah menjaga kalamullah di era modern yang penuh distraksi. [adm]
Dialogakopi: When an Arabic Literature Student Turns Coffee into a Literacy Space
Lima mahasiswa Sastra Arab UNS mengubah passion menjadi bisnis lewat warung kopi yang mengusung konsep slowbar dan sastra. Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) dari Direktorat Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa UNS memberi jalan bagi mereka mewujudkan Dialogakopi. Malam mulai turun di sekitar kawasan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Satu per satu lampu mulai menyala. Di sebuah bangunan yang menyerupai rumah tidak jauh dari kampus, aroma kopi tercium. Dialogakopi, warung kopi rintisan lima mahasiswa Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, angkatan 2024, baru saja membuka pintunya. Taqiuddin Zuhdi, ketua kelompok usaha ini, masih sibuk menyiapkan peralatan di balik konter. Pemuda asal Karanganyar itu bukan barista sembarangan. Pengalamannya di dunia kopi sudah terasah sejak lama, jauh sebelum ia memutuskan mewujudkan mimpi memiliki warung kopi sendiri. “Saya secara pribadi memiliki pengalaman di bidang kopi dan barista, dan hobi yang saya gemari semenjak kecil adalah berbisnis,” ujar Taqiuddin. Titik balik terjadi saat ia menghadiri sebuah seminar bisnis. Di sana, Taqiuddin mendapat pencerahan bahwa bisnis paling aman adalah yang dijalankan dengan konsep brick and mortar, bisnis dengan tempat fisik tetap sebagai sarana transaksi. “Dengan pengalaman dan skill yang saya miliki, saya memikirkan sebuah ide yaitu membangun sebuah warung kopi kecil dan menjadikannya impian atau target yang harus saya usahakan,” kenangnya. Pilihan jatuh pada bisnis kopi bukan tanpa alasan. Fenomena kafe sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup mahasiswa dan anak muda masa kini. “Tidak bisa dipungkiri bahwa kafe atau kopi sudah menjadi tren dan gaya hidup baru bagi anak-anak muda untuk sekadar nugas, nongkrong, diskusi,” kata Taqiuddin. Ia melihat peluang di tengah maraknya warung kopi yang bermunculan. Konsep Slowbar dan Sentuhan Sastra Namun, Dialogakopi tidak ingin sekadar menjadi warung kopi biasa. Dari namanya saja sudah tersirat konsep yang ingin diusung, yakni dialog. “Dialoga kopi berasal dari kata dialog. Kami membangun konsep slowbar dengan barista sebagai teman bincang,” jelas Taqiuddin. Di Dialogakopi, pelanggan tidak hanya membeli kopi, tetapi juga mendapat ruang untuk berbincang, merenung, bahkan berdiskusi dengan barista yang berperan lebih dari sekadar pembuat minuman. Sentuhan sastra pun tak luput dari perhatian. Latar belakang kelima anggota kelompok sebagai mahasiswa Sastra Arab memberi warna tersendiri. “Kami juga membawa konsep sastra dengan memberikan sentuhan kata pada cup coffee dan juga menyediakan buku sebagai sarana literasi,” tambah Taqiuddin. Ke depan, ambisi mereka tak berhenti di situ. Dialogakopi berencana merutinkan kegiatan bedah buku, ruang diskusi, bahkan ruang belajar bahasa, mulai dari bahasa Arab hingga bahasa isyarat. Visi ini sejalan dengan semangat literasi yang ingin mereka tanamkan di tengah komunitas mahasiswa. Yang tak kalah menarik, Dialogakopi memasang harga yang bersaing dan terjangkau bagi kantong mahasiswa. “Kami juga bersaing dengan harga pasar agar lebih mudah dijangkau oleh mahasiswa karena mereka adalah target pasar utama kami,” ujar Taqiuddin. Dari Hibah hingga Soft Opening Dialogakopi tidak lahir begitu saja. Kelima mahasiswa ini, Taqiuddin Zuhdi, Vitra Raffael Aqila, Ghaffari Nashwan, Alif Sumba, dan Pertiwi Mubarokah, mendapat angin segar dari kampus lewat program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) yang diselenggarakan Direktorat Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa (DAKM) UNS. Program WIBAWA bertujuan menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa sekaligus memberikan stimulus melalui hibah. “Alhamdulillah, kami mendapatkan support dari kampus. Saya merasakan memiliki privilege dari kampus yang mendukung penuh mahasiswanya untuk berwirausaha,” kata Taqiuddin dengan nada syukur. Dukungan kampus bukan hanya sekadar retorika. Hibah WIBAWA memberi mereka modal awal untuk mewujudkan impian. Sebelum membuka tempat fisik, mereka mengawali bisnis dengan berjualan di berbagai event dan sistem pre-order. Respons pasar cukup menggembirakan. Pada 12 November 2025, Dialogakopi akhirnya menggelar soft opening. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah bangunan menyerupai rumah, tidak jauh dari kampus, berlokasi di Jalan Berseri Nomor 3, Gulon, Jebres. “Kami berusaha mencari tempat yang dekat dengan kampus agar mudah dijangkau, dan kebetulan kami mendapatkan tempat seperti rumah yang menjadikannya lebih bernuansa kekeluargaan,” jelas Taqiuddin. Grand opening dijadwalkan pada 21 November 2025, tepat sembilan hari setelah soft opening. Waktu singkat itu digunakan untuk evaluasi dan penyempurnaan operasional. Membagi Peran, Menjaga Kuliah Menjalankan bisnis sambil kuliah bukanlah perkara mudah. Namun, kelima mahasiswa ini tampak punya strategi jitu. Mereka membagi tugas dengan rapi. Semua anggota berperan sebagai barista, namun masing-masing punya tanggung jawab tambahan. Ada yang jadi koordinator, penanggung jawab produksi dan bahan baku, pengatur tata tertib dan jadwal, serta manajer pemasaran dan iklan. “Kami membuka bisnis ini dengan operasional pada malam hari, dan juga sistem shift per hari sehingga kesannya menjadi pekerjaan paruh waktu atau part time dan sama sekali tidak mengganggu perkuliahan,” ujar Taqiuddin. Keputusan operasional malam hari adalah langkah cerdas. Siang hari mereka bisa fokus kuliah, sementara malam hari adalah waktu prime time mahasiswa mencari tempat nongkrong atau mengerjakan tugas. Sistem shift memastikan tidak ada yang terbebani dan semua bisa seimbang antara akademik dan bisnis. Orientasi Jangka Panjang Berbeda dengan kebanyakan bisnis mahasiswa yang berumur pendek, Dialogakopi punya visi jauh ke depan. “Orientasi kami memang tidak hanya terbatas dalam jangka waktu ketika kami menjadi mahasiswa. Kami bahkan berharap agar bisnis ini ke depannya bisa melakukan ekspansi entah dari segi tempat maupun cabang,” kata Taqiuddin dengan penuh keyakinan. Ambisi itu bukan sekadar mimpi kosong. Dengan fondasi yang kuat, konsep unik, target pasar jelas, dan dukungan kampus, Dialogakopi berpeluang tumbuh menjadi bisnis yang berkelanjutan. Taqiuddin juga punya pesan untuk mahasiswa lain. “Saat ini, mencari pekerjaan tidak mudah. Semoga kegiatan seperti ini menjadi motivasi yang kuat khususnya untuk mahasiswa untuk berani dan sukses pada langkahnya sendiri, yaitu berani berwirausaha,” katanya. Model Perguruan Tinggi Progresif Langkah UNS lewat DAKM dan program WIBAWA menunjukkan peran perguruan tinggi di era modern. Kampus tidak cukup hanya mengajarkan teori di kelas, tetapi harus aktif membuka jalan bagi mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif. Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada DAKM UNS yang telah memberi peluang. “Support hingga kami dapat memulai langkah kami untuk berwirausaha,” ujarnya. Program seperti WIBAWA juga menjawab tatangan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak hanya menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja. Dengan membekali mahasiswa sejak dini untuk berwirausaha, kampus turut menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih sehat. Malam semakin larut. Di Dialogakopi, beberapa pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang untuk mengerjakan tugas, ada yang sekadar ingin ngobrol santai sambil menikmati kopi. Taqiuddin dan
Encouraging Student Participation, Arabic Literature Department FIB UNS Holds Briefing for Student Creativity Program
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar sosialisasi dan pembekalan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Kamis (13/11/2025). Kegiatan yang berlangsung selama dua setengah jam di Ruang Seminar FIB itu menargetkan peningkatan partisipasi mahasiswa dalam ajang kompetisi riset dan kreativitas tingkat nasional. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIB UNS, Dr. Yusana Sasanti Dadtun, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan ilmiah. “Harapannya partisipasi mahasiswa FIB, terutama Sastra Arab, meningkat. Terima kasih Kaprodi yang sudah menyelenggarakan acara,” ujarnya saat membuka kegiatan pukul 13.30 WIB. Acara yang dimoderatori Ketua Program Studi Sastra Arab, Dr. Reza Sukma Nugraha, M.Hum., menghadirkan dua narasumber berpengalaman dalam pembimbingan PKM. Aan Andri Yano, S.Pt., M.Sc., dosen Sekolah Vokasi UNS yang juga pembina prestasi mahasiswa dan reviewer Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) UNS, menekankan komitmen penuh dalam persiapan proposal. “PKM menuntut mahasiswa menyiapkan diri secara 100%, tidak boleh setengah-setengah. Harus kerja sama antara mahasiswa, antaranggota, dan dosen pembimbing,” tegas Aan, menyoroti pentingnya sinergi dalam tim riset. Narasumber kedua, Dr. Muhammad Yunus Anis, S.S., M.A., dosen Sastra Arab yang juga reviewer PIM UNS, mengungkapkan optimisme terhadap potensi mahasiswa. “Harapannya tahun ini mahasiswa Sastra Arab ada yang diterima PKM Pendanaan. Mahasiswa bisa mengikuti berbagai skema sesuai passion-nya. Saya siap mendampingi dan memberikan konsultasi,” katanya. Antusiasme Mahasiswa Menggali Ide PKM Kegiatan yang diikuti mahasiswa angkatan 2023, 2024, dan 2025 itu berlangsung interaktif. Sejumlah peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar mekanisme pengajuan proposal dan strategi lolos seleksi. Tak sedikit yang mengaku telah memiliki gagasan kreatif untuk diajukan ke PIM UNS, saringan tingkat universitas sebelum maju ke PKM nasional. PKM merupakan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang memberikan kesempatan mahasiswa mengembangkan kreativitas dan inovasi melalui berbagai skema, mulai riset, pengabdian masyarakat, hingga kewirausahaan. PIM UNS menjadi gerbang seleksi awal bagi mahasiswa UNS sebelum berkompetisi di tingkat nasional. Melalui kegiatan ini, Program Studi Sastra Arab FIB UNS berupaya memfasilitasi mahasiswa dalam menyalurkan ide-ide kreatif sekaligus meningkatkan daya saing akademik di kancah nasional. Kesempatan konsultasi dan pendampingan langsung dari dosen pembimbing berpengalaman diharapkan mampu mendongkrak capaian prestasi mahasiswa di masa mendatang. [adm]
Strengthening Religious Moderation through Qashidah Burdah: A Reflection of Community Service Activities at the Nurul Musthafa Palur Assembly
Sukoharjo, November 2025 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, melaksanakan kegiatan bertajuk “Penguatan Nilai Moderasi Beragama melalui Pendalaman Makna Qashidah Burdah Karya Imam al-Busiri” di Majelis Nurul Musthafa, Dusun Turisari, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Hibah Riset dan Pengabdian Masyarakat (HRG) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh LPPM UNS. Menjawab Tantangan Moderasi di Masyarakat Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya gejala eksklusivisme dan intoleransi dalam kehidupan beragama di tingkat masyarakat. Penguatan moderasi melalui pendekatan kultural berbasis sastra religius dinilai lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat. Salah satu karya yang digunakan adalah Qashidah Burdah karya Imam al-Busiri — sebuah puisi klasik berisi 160 bait yang memuji akhlak Nabi Muhammad SAW. Dalam karya ini terkandung nilai-nilai spiritual universal, seperti kasih sayang, toleransi, dan keseimbangan. “Karya klasik seperti Burdah sesungguhnya menyimpan spirit Islam wasathiyah yang relevan untuk membangun masyarakat yang damai dan berkeadaban,” ujar Dr. Suryo Ediyono, M.Hum., selaku ketua tim pengabdian. Tahapan Kegiatan dan Keterlibatan Mitra Rangkaian kegiatan diawali dengan koordinasi dan survei awal bersama pengurus majelis pada 19 April 2025, dilanjutkan dengan rapat pendampingan pada 3 Mei 2025 untuk menyepakati bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan utama dilakukan dalam tiga pertemuan besar pada bulan Juni 2025, yakni: Setiap pertemuan diadakan bertepatan dengan jadwal rutin Majelis Nurul Musthafa pada Kamis malam Jum’at, dan dihadiri oleh sekitar 100 jamaah aktif. Kegiatan diisi dengan ceramah interaktif, diskusi reflektif, serta evaluasi awal dan akhir (pre-test dan post-test) berdasarkan empat indikator moderasi beragama dari Kementerian Agama RI: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodasi budaya lokal. Sebelum kegiatan, sebagian besar jamaah memahami pembacaan Qashidah Burdah sebagai ritual rutin tanpa menggali nilai-nilai moral di baliknya. Namun, setelah kegiatan, jamaah mulai memahami bahwa setiap bait dalam Burdah mengandung pesan akhlak dan spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang dikaji adalah bait فَاقَ النَّبِيِّيْنَ فِي خَلْقٍ وَفِي خُلُقٍ ۞ وَلَمْ يُدَانُوْهُ فِي عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ, yang menggambarkan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Melalui pemaknaan bait ini, jamaah diajak untuk meneladani kelembutan dan kedermawanan beliau sebagai fondasi membangun masyarakat yang harmonis. Capaian dan Dampak Kegiatan Berdasarkan evaluasi yang dilakukan didapatkan peningkatan pemahaman jamaah terhadap nilai moderasi beragama sebesar 72% yang diukur melalui pre-test dan post-test. Kegiatan ini juga menghasilkan perubahan perilaku sosial yang nyata. Jamaah lebih aktif dalam kegiatan sosial, lebih terbuka terhadap perbedaan pandangan, dan mengedepankan kelembutan dalam berdakwah. Kontribusi Akademik dan Keberlanjutan Dalam kaitannya dengan keilmuan, kegiatan ini memperkuat riset-riset terkini yang mengaitkan sastra Islam klasik dengan pendidikan karakter dan moderasi beragama. Kajian Qashidah Burdah menjadi jembatan antara teks klasik dan realitas sosial modern dengan memperlihatkan bahwa sastra Arab bukan hanya objek kajian linguistik, tetapi juga sumber nilai-nilai kemanusiaan universal. Dr. Suryo Ediyono menegaskan, “Kegiatan ini diharapkan menjadi penggerak dalam gerakan literasi keagamaan berbasis refleksi. Kami berharap Majelis Nurul Musthafa menjadi pionir majelis yang mengajarkan nilai Islam moderat melalui sastra klasik.” Penutup Kegiatan pengabdian ini membuktikan bahwa Qashidah Burdah bukan hanya karya pujian kepada Nabi, melainkan juga sarana pendidikan moral dan spiritual yang efektif. Dengan pendekatan partisipatif dan reflektif, Prodi Sastra Arab FIB UNS berhasil menghidupkan kembali nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam konteks masyarakat modern, sekaligus menunjukkan bahwa sastra Arab memiliki peran strategis dalam membangun peradaban yang damai, toleran, dan berkeadaban. [hil]
Sastra Arab UNS Raih Akreditasi Unggul dari BAN-PT 2025-2030
SURAKARTA, SASTRA ARAB UNS — Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) meraih akreditasi dengan peringkat Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pencapaian tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT Nomor 7777/SK/BAN-PT/Ak.Ppj/S/X/2025. Akreditasi Unggul ini berlaku selama lima tahun, terhitung mulai 1 Oktober 2025 hingga 1 Oktober 2030. Peringkat tertinggi dalam sistem akreditasi nasional ini menjadi pengakuan atas kualitas penyelenggaraan pendidikan program studi yang berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya UNS tersebut. Akreditasi ini diperoleh melalui mekanisme akreditasi automasi. Metode ini merupakan cara akreditasi ulang yang dilakukan secara otomatis tanpa memerlukan asesmen langsung oleh asesor. Proses evaluasi dilakukan dengan memantau dan mengevaluasi data serta informasi yang tersedia secara digital. Sistem akreditasi automasi mencerminkan transformasi digital dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Metode ini dinilai lebih efisien karena memanfaatkan basis data yang telah terintegrasi, sekaligus menunjukkan konsistensi kualitas program studi yang diakreditasi. Civitas akademika Sastra Arab UNS kini dapat mengunduh sertifikat akreditasi melalui laman resmi program studi. Dokumen tersebut menjadi bukti formal pengakuan kualitas yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan akademik dan administratif. Akreditasi Unggul diharapkan semakin memperkuat posisi Sastra Arab UNS dalam peta pendidikan bahasa dan sastra Arab di Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing lulusannya di tingkat nasional maupun regional. [adm]
Between Literature and Economics: The Story of Ritchi Antonni and His Cross-Disciplinary Path
Lulusan Sastra Arab tak melulu harus berkutat dengan dunia akademis atau diplomasi. Ritchi Antonni, pemuda asal Grobogan, Jawa Tengah, sekaligus alumni Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2017, membuktikan bahwa latar belakang bahasa dan budaya bisa menjadi pintu masuk menuju dunia pasar modal dan industri keuangan. Kisi-Kisi Sejak Kuliah Semasa kuliah, Ritchi aktif di berbagai organisasi, mulai dari Himpunan Mahasiswa QIS’AR, Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan, hingga Teater OASE. Ia juga mengumpulkan pengalaman magang di berbagai instansi prestisius, seperti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI, Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga Litbang Kompas. “Magang di BEI menjadi momen tak terlupakan. Di situ saya sadar bahwa kemampuan analisis informasi dan pemahaman konteks budaya yang saya pelajari dari Sastra Arab justru menjadi nilai tambah,” kenangnya. Kariernya pun terus menanjak. Ritchi sempat menjadi asisten Business Director di Solo Grace Agency–Manulife Indonesia, administrator di BEI, hingga administrator Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan. Kini ia dikenal sebagai capital market enthusiast yang aktif berbagi pengalaman dan pandangan. Tantangan Lintas Disiplin Peralihan dari dunia sastra ke pasar modal tentu penuh tantangan. Ritchi harus beradaptasi cepat dengan istilah teknis keuangan. “Di Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan, saya harus memahami terminologi yang sama sekali baru. Tapi justru tantangan itu melatih saya untuk terus belajar, memperkuat presentasi, dan berkolaborasi dengan orang dari latar belakang berbeda,” katanya. Menurut Ritchi, beberapa mata kuliah di Sastra Arab justru relevan dengan profesinya sekarang, seperti Kajian Lintas Budaya, Analisis Wacana, Jurnalistik, hingga Pengantar Ekonomi Syariah. Pesan untuk Generasi Muda Kepada mahasiswa, khususnya adik tingkat di Sastra Arab, Ritchi berpesan agar berani keluar dari zona nyaman. “Jangan batasi diri pada stereotip. Latar belakang Sastra Arab adalah kekuatan unik. Beranilah mengambil risiko, ikuti magang, volunteer, sertifikasi, dan organisasi. Semua pengalaman itu akan membuka peluang yang tidak pernah kalian bayangkan,” tegasnya. [mya]
UNS Arabic Literature Lecturer Provides High-Quality Scientific Publication Preparation for Academics at UNNES Writing Camp
Semarang – Banyak orang mengira bahwa akademisi seperti dosen hanya berhubungan dengan kegiatan mengajar. Padahal, mereka dan para peneliti juga dituntut untuk melakukan riset ilmiah. Tak berhenti di situ, mereka juga diharuskan untuk menyampaikan hasil risetnya melalui publikasi ilmiah. Sayangnya, data dari Research Integrity Index (RI²) menunjukkan adanya 13 universitas di Indonesia yang masuk ke dalam daftar perguruan tinggi dengan integritas penelitian yang diragukan. Mendengar hal tersebut, dosen Sastra Arab UNS, Dr. Muhammad Yunus Anis, S.S., M.A., diundang pada acara “Writing Camp dan Klinik Manuskrip” oleh Program Studi Pendidikan Sastra Arab Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES) untuk membekali para akademisi tentang publikasi ilmiah yang ideal. Sebelum Memulai Tulisan Ada satu langkah sebelum memulai penulisan yang banyak dilupakan oleh banyak orang. Agar hasil riset dapat disajikan dalam bentuk tulisan publikasi ilmiah, penulis perlu mengetahui dan merenungkan tentang kelebihan dan kekurangan dirinya. Selain itu, ia juga harus memahami betul tentang hasil risetnya. Ia juga harus yakin dan mengetahui alasan kuat mengapa risetnya akan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Kegiatan ini dapat disebut sebagai ”Evaluasi Diri”. Struktur dan Komposisi yang Ideal Setelah melakukan evaluasi diri, penulis dapat mulai melakukan kegiatan menulisnya. Agar hasil riset dapat disajikan secara terstruktur, ada pola khusus yang dapat dijadikan pedoman dalam tulisannya tersebut. Menurut Yunus, artikel ilmiah yang ideal mengikuti pedoman IMRD (Introduction, Methods, Results, Discussion) dengan proporsi penulisan yang seimbang. Proporsi tersebut meliputi 10% pendahuluan, 15% metode, 35% hasil, dan 35% pembahasan, sementara kesimpulan dan daftar pustaka dapat digunakan untuk melengkapi kerangka tersebut. Struktur artikel yang baik juga dapat diperindah dengan penggunaan judul yang tepat. Judul artikel yang baik harus kuat, ringkas, dan informatif, serta menghindari istilah klise seperti “studi perbandingan” atau “pengaruh variabel”. Abstrak juga perlu disusun dengan cermat karena menjadi bagian yang paling sering dibaca setelah judul. Jurnal Rujukan Turut Menentukan Jurnal yang dijadikan landasan dalam menyampaikan gagasan juga harus dipilah dengan baik. Berbagai aspek jurnal perlu diperhatikan. Mulai dari substansi, gaya penulisan, hingga sumbernya. “Scimago Journal Rank (SJR)” dapat dijadikan sebagai platform rujukan untuk mencari jurnal bereputasi. Agar terbiasa mengenal gaya dan standar publikasi, ada satu strategi sederhana yang dapat diterapkan, yaitu “satu hari satu jurnal, satu hari satu abstrak”. Cara Penyajian Data Perlu Diperhatikan Bagaimana masakan lezat yang disajikan tanpa cara yang tepat, artikel ilmiah kurang berkualitas jika cara penyampaian datanya tidak tepat. Ini menjadi kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis pemula. Banyak penulis pemula cenderung menyalin data mentah ke dalam artikel. Padahal, hasil penelitian harus disajikan secara naratif, sistematis, dan diperkuat oleh ilustrasi berupa tabel atau grafik. “Pembahasan tidak sekadar menarasikan data, tetapi memberi tafsir, mengaitkan dengan teori, serta menunjukkan kontribusi temuan,” kata Yunus. Optimalisasi E-Resources Terakhir, sumber daya digital (e-resources) juga harus dimanfaatkan. Sumber daya ini dapat dimanfaatkan untuk mengecek plagiarisme serta penggunaan kecerdasan buatan dalam penulisan. Jangan sampai teknik penulisan sudah tepat, namun integritas akademik malah dipertanyakan. Materi oleh Yunus ini membuktikan bahwa keterampilan menulis bukanlah suatu hal yang diwariskan sejak lahir. Namun, keterampilan tersebut dapat dimiliki jika terus diasah dengan upaya yang baik. UNNES dan UNS berharap para akademisi mampu menghasilkan publikasi berkualitas internasional, sekaligus berkontribusi memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. “Menulis itu proses panjang, tetapi dengan disiplin dan strategi, publikasi di jurnal bereputasi bukan lagi sekadar mimpi,” pungkas Yunus. [mya]
Dosen Sastra Arab UNS: Menumbuhkan Kesadaran Nasionalisme dari Meja Makan
“Tak pernah ada negara runtuh karena kelebihan pangan. Tapi sejarah berkali-kali membuktikan: kelaparan sanggup meruntuhkan peradaban.” – Soekarno Ketika berbicara tentang nasionalisme, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada bendera, lagu kebangsaan, atau pengorbanan para pahlawan. Namun, siapa sangka bahwa nasionalisme juga bisa dimulai dari tempat sederhana yang akrab bagi kita semua, yakni meja makan. Dr. Muhammad Ridwan, S.S., M.A., dosen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, menegaskannya lewat artikelnya berjudul “Mati dan Hidup dari Meja Makan: Saat Nasi Jadi Soal Negara” dan salah satu kuliah umumnya bertajuk Sedaring Episode #1. Ia berpendapat bahwa makanan bukan hanya soal isi perut, tetapi juga menyangkut martabat dan kedaulatan bangsa. Ketika pangan menjadi barang impor dan petani lokal tidak mampu bersaing, maka sesungguhnya bangsa Indonesia sedang kehilangan kedaulatannya. Padahal, pangan adalah isu strategis yang sejak lama menjadi perhatian para pemimpin Nusantara. Sultan Agung Mataram memahami bahwa serangan militer ke Batavia tak akan berhasil tanpa jaminan logistik, yang ia realisasikan dengan memenuhi lumbung padi. Begitu pula dengan Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Iskandar Muda yang masing-masing telah membangun sistem pangan sebagai pondasi kekuasaan dan keberlangsungan hidup rakyatnya. Lalu, bagaimana dengan kita hari ini? Urusan pangan hanya dianggap milik kebutuhan rumah tangga dan bukan tanggung jawab negara. Sawah-sawah mulai ditinggalkan seiring dengan menuanya para petani. Generasi muda tak sudi melirik cangkul. Impor diputuskan dengan mudah sementara pasokan pangan global pun sedang mengalami masa krisis. Bangsa kian melupakan petuah nenek moyang, “nandur sing dipangan, mangan sing ditandur” (menanam yang dimakan dan memakan apa yang ditanam). Ini bukan sekedar petuah bertani atau dongeng, namun ini adalah cara berpikir untuk hidup dia atas kaki sendiri. “Jika nasi di piring kita berasal dari beras impor, maka sebenarnya kita sedang memberi makan ekonomi bangsa lain,” ujar Ridwan. Tantangan ini bukan hanya urusan petani. Kini, sudah waktunya bangsa ini berbenah diri. Tidak hanya menunggu kebijakan negara, namun pola pikir masyarakat juga perlu perubahan. Meja makan seharusnya menjadi tempat awal pendidikan nasionalisme: mengenal makanan lokal, menghargai kerja petani, memilih produk negeri sendiri, serta membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Apa yang harus dilakukan? Menghadapi tantangan ini, solusi bukan hanya bertumpu pada kebijakan negara, tetapi juga pada perubahan pola pikir masyarakat. Meja makan seharusnya menjadi tempat awal pendidikan nasionalisme: mengenal makanan lokal, menghargai kerja petani, memilih produk negeri sendiri, serta membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Langkah kecil seperti memilih beras dari petani lokal, mengenalkan anak pada masakan tradisional, dan menanam tanaman di pekarangan bisa menjadi kontribusi nyata. Sejarah mencatat, bangsa yang kehilangan kendali atas pangannya akan kehilangan kendali atas nasibnya. Oleh sebab itu, penting bagi setiap keluarga untuk kembali melihat meja makan bukan sekadar tempat makan bersama, tetapi juga medan juang untuk masa depan bangsa. Sebagaimana Bung Karno memperingatkan bahwa “urusan perut adalah urusan hidup mati”, maka setiap sendok nasi yang kita suapkan hari ini adalah bagian dari keputusan besar: apakah kita ingin tetap merdeka atau hanya menjadi pasar dari bangsa lain. [mya]
Mahasiswa Sastra Arab UNS Adakan Penelitian Riset: Efektivitas Penggunaan Huruf Arab Braille pada Pengetahuan Bahasa Arab Siswa SLB A YKAB Surakarta
SURAKARTA – Di tengah kemajuan zaman dan tantangan dunia pendidikan, masih banyak generasi muda yang peduli dan berinisiatif untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya ditunjukkan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret melalui program hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang saat ini tengah melaksanakan kegiatan penelitian terkait efektivitas penggunaan huruf Arab Braille dalam meningkatkan pengetahuan bahasa Arab bagi siswa/i disabilitas netra di SLB A YKAB Surakarta (3/3/2025 – 31/7/2025) SLB A YKAB Surakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan khusus bagi penyandang tunanetra. Di sekolah ini, para siswa/i diajarkan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk pelajaran keagamaan dan bahasa Arab. Namun, akses terhadap media pembelajaran bahasa Arab belum optimal. Hal ini menjadi landasan mahasiswa Sastra Arab UNS untuk berinisiatif melakukan riset yang tidak hanya bersifat observasi, tetapi juga langsung terlibat dalam proses pembelajaran. Salah satu fokus kegiatannya adalah pengenalan huruf Arab Braille yang diaplikasikan dalam teks Dzikir Pagi dan Petang Raudlatul Makfufin. Melalui pendampingan intensif, siswa diajarkan membaca teks tersebut menggunakan huruf Braille, sehingga mereka dapat memahami bacaan dzikir sekaligus menambah kosa kata bahasa Arab. Metode ini membantu siswa/i dalam menghafal dan memahami arti kosakata. Sesi pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan kata, kuis, serta aktivitas diskusi ringan agar siswa dapat terlibat aktif. Sebagai upaya mempermudah proses pembelajaran, mahasiswa berinovasi dengan mengembangkan alat bantu untuk memperkenalkan flash card berisi 20 kosakata Arab-Indonesia Braille pada teks dzikir pagi dan petang. Metode ini membantu siswa/i disabilitas netra dalam menghafal dan memahami arti kosakata yang terdapat pada dzikir pagi petang. Melalui permainan interaktif dengan flash card, suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, sekaligus melatih daya ingat siswa untuk mengukur sejauh mana efektivitas metode ini, para mahasiswa juga melakukan metode pembelajaran berupa pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa/i dan post-test untuk melihat peningkatan setelah pembelajaran berlangsung. Hasil dari evaluasi ini menjadi data penting untuk analisis keberhasilan metode Braille dalam memperkuat daya ingat dan pemahaman kosakata bahasa Arab. Salah satu inovasi menarik dari kegiatan lainnya adalah memperkenalkan produk pembelajaran berupa audio book bahasa Arab. Audio ini berisi pengucapan kosakata Arab yang disesuaikan dengan materi flash card, sehingga dengan adanya media ini, proses belajar tidak hanya terbatas di ruang kelas, tetapi juga dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Kedua media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan berdasarkan kemampuan siswa/i dalam proses pembelajaran. Setiap siswa/i memiliki kecenderungan dalam kenyamanannya menggunakan model belajar visual atau auditori. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan penelitian, tim mahasiswa juga menyelenggarakan sebuah workshop bertema “Aksesibilitas Pembelajaran Bahasa Arab bagi Tunanetra: Optimalisasi Audiobook sebagai Sumber Belajar Mandiri.” Workshop ini ditujukan bagi guru-guru dan tenaga pendidik SLB A YKAB, dengan tujuan untuk memperkenalkan pemanfaatan media audio dalam mendukung proses belajar bahasa Arab bagi siswa tunanetra. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk memahami cara mengintegrasikan audiobook ke dalam pembelajaran sehari-hari, mulai dari strategi penggunaannya, teknis pemutaran yang ramah tunanetra, hingga potensi pengembangan materi audio yang lebih luas dan berkelanjutan. Diharapkan melalui workshop ini, proses belajar siswa dapat menjadi lebih fleksibel, menarik, dan tetap efektif meskipun dilakukan secara mandiri di luar kelas. Kegiatan ini mendapat respon positif dari pihak sekolah. Guru-guru SLB A YKAB menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan yang digunakan karena dinilai mampu membangun motivasi belajar siswa dan memperluas akses pembelajaran bahasa Arab di kalangan siswa tunanetra. Tidak hanya dari pihak guru, para siswa juga memberikan tanggapan yang positif. Mukhlis, salah satu siswa menyampaikan, “Saya senang belajar pakai kartu huruf Braille ini, jadi lebih mudah menghafal dan seru juga karena ada permainan.” Salah seorang siswi bernama Nayla menambahkan, “Saya paling suka bagian mendengarkan audiobook-nya, jadi bisa belajar di rumah sambil istirahat.” Di penghujung kegiatan, mahasiswa menyampaikan harapan agar semangat belajar para siswa senantiasa tumbuh dan tidak pernah padam, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. “Kami meyakini bahwa setiap individu memiliki potensi yang luar biasa. Besar harapan kami, metode pembelajaran ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas, terutama di sekolah-sekolah luar biasa lainnya.” Pesan tersebut juga ditujukan kepada pembaca dan masyarakat luas. Mahasiswa menyampaikan harapan yang besar agar semakin banyak pihak yang peduli dan tergerak untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Pendidikan adalah hak semua orang, dan sudah saatnya semua pihak bergerak bersama untuk mewujudkan kesetaraan tersebut. Melalui riset ini, mahasiswa Sastra Arab UNS tak hanya menerapkan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah, tetapi juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap pentingnya pendidikan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. [Tim MBKM Sastra Arab]
Pelatihan Maharah Kitabah Melalui Genre-based Approach bagi Siswa MAN 1 Karanganyar
Dalam upaya mendukung peningkatan keterampilan menulis dalam bahasa Arab (Maharah Kitabah) di tingkat pendidikan menengah, Grup Riset Bahasa dan Sastra Arab, Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Maharah Kitabah Melalui Genre-based Approach (GBA) bagi siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Karanganyar, pada tanggal 22–23 Mei 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) dana Non-APBN Tahun Anggaran 2025, dengan nomor kontrak 370/UN27.22/PT.01.03/2025, yang mengusung judul, “Peningkatan Keterampilan Maharah Kitabah pada Materi Insya Melalui Genre-based Approach (GBA) bagi Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Karanganyar.” Bertempat di MAN 1 Karanganyar, Jl. Ngalian No.4, Tegalgede, Karanganyar, Jawa Tengah, kegiatan ini memberikan pengenalan dan pelatihan kepenulisan berbagai genre teks, dengan fokus pada genre makro faktual seperti teks rekon, deskripsi, prosedur, eksposisi, diskusi, laporan, dan eksplanasi. Melalui pendekatan Genre-based Approach (GBA), siswa diarahkan untuk memahami struktur dan tahapan penulisan, fungsi sosial, dan ciri kebahasaan dari setiap jenis teks, sehingga proses menulis menjadi lebih sistematis dan bermakna. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 10, dengan pendampingan langsung dari guru bahasa Arab, Ibu Haryati, S.S dan tim dosen Grup Riset Bahasa dan Sastra Arab FIB UNS. Metode pelatihan mencakup teori genre, latihan menulis, serta pembahasan dan umpan balik terhadap hasil tulisan siswa. Ketua tim pengabdian, Dr. Afnan Arummi, S.H.I., M.A., menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan teknis menulis, tetapi juga membangun kesadaran siswa terhadap konteks dan tujuan dari setiap jenis teks. “Pendekatan berbasis genre memberikan kerangka yang jelas bagi siswa dalam memahami dan memproduksi teks, sehingga proses belajar menulis khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab tidak lagi menjadi momok yang sulit,” ungkapnya. Kepala MAN 1 Karanganyar turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi positif antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan siswa MAN 1 Karanganyar dapat mengembangkan keterampilan menulis yang lebih terstruktur dan efektif dalam berbagai genre teks berbahasa Arab, khususnya dalam materi Insya’ (menyusun teks). [afn]